Filsafat Ilmu “Lyotard dalam Perkembangan Posmodernisme”

LYOTARD DALAM PERKEMBANGAN POSMODERNISME

OLEH :
IRENE DEBORA
1206188591

Jurusan Ilmu Linguistik
Program Magister Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia

Pendahuluan
Memahami tentang postmodernisme berarti mengasumsikan pertanyaan tentang hilangnya kepercayaan pada proyek modernitas, munculnya semangat pluralisme, skeptisisme, terhadap ortodoksi tradisional, serta penolakan terhadap pandangan bahwa dunia merupakan suatu totalitas yang universal, pendekatan terhadap harapan akan solusi akhir dan jawaban yang sempurna. Maka untuk memahaminya diperlukan kekayaan makna dan keluasan wawasan dan bukan model berpikir hitam-putih, akan tetapi membuat tingkatan makna, mencari kombinasi dari berbagai fokus (prespektif). Bagi kaum postmodernis berbagai prespektif dan idiologi yang bersaing dalam kehidupan ditengah masyarakat tidak ubahnya seperti berbagai barang dengan merek yang berbeda dan dijual bebas di pusat perbelanjaan. Hal ini dirumuskan oleh Akbar S.Ahmed seorang antropolog muslim tentang ciri-ciri postmodern (Lubis, 2003).
1. Pengertian Postmodern
Diskusi tentang posmodernisme (postmodernism debate) tahun 1980-an sudah melanda Eropa dan Amerika, seperti kongres yang dilakukan Asosiasi Filsafat Jerman tahun 1986 yang mengambil tema posmodern dengan judul “Jaman Teknologi atau Posmodernitas” yang dihadiri oleh wakil- wakil kementrian riset, kementrian ilmu pendidikan, asosiasi ilmu pengetahuan Jerman, serta media masa. Paradigma baru posmodern adalah paradigma yang menekankan ketidak – teramalan, ketidak pastian dan katastrop. (Lubis, 2004: 52)
Postmodernisme sebagai wacana pemikiran harus dibedakan dengan postmodernitas sebagai sebuah kenyataan sosial. Postmodernitas adalah kondisi dimana masyarakat tidak lagi diatur oleh prinsip produksi barang, melainkan produksi dan reproduksi informasi dimana sektor jasa menjadi faktor yang paling menentukan. Masyarakat adalah masyarakat konsumen yang tidak lagi bekerja demi memenuhi kebutuhan, melainkan demi memenuhi gaya hidup. Sedangkan postmodernisme adalah wacana pemikiran baru sebagai alternatif terhadap modernisme. Modernisme sendiri digambarkan sebagai wacana pemikiran yang meyakini adanya kebenaran mutlak sebagai objek representasi bagi subjek yang sadar, rasional, dan otonom. Sebagai realitas pemikiran baru, postmodernisme menjatuhkan konsep-konsep modernisme, seperti adanya subjek yang sadar-diri dan otonom, adanya representasi istimewa tentang dunia, dan sejarah linier. Istilah “pos”, pada posmodern,merupakan elaborasi keyakinan modern, sebagai upaya untuk memutuskan hubungan dengan tradisi (modern) dengan memunculkan cara – cara kehidupan dan pemikiran yang baru sama sekali (Lyotard, 1992: 90). Pemutusan dengan masa lalu (jaman modern) menurut Lyotard merupakan jalan untuk melupakan dan merepresi masa lalu.
Ciri lain kebudayaan posmodern terwujud dalam berbagai aspek (seni, sastra, ilmu, dan teknologi) dengan ciri – ciri baru, sehingga posmodern tidak dapat dipahami dengan menggunakan pisau analisa modern. Alasannya karena konsep, gagasan dan kriteria ilmiah modern pada umumnya telah ditinggalkan dan tidak dapat diberlakukan pada kebudayaan posmodern itu, seperti pembedaan antara seni tinggi dengan seni populer dalam konteks modern.
Diantara pemikir posmodern, Francois Lyotard mempunyai kedudukan penting karena ia memberikan pendasaran filosofis pada gerakan posmodern itu. Lyotard mengemukakan penolakannya terhadap pandangan modern dengan mengemukakan penolakannya terhadap pandangan modern dengan mengemukakan konsep tentang mini – narasi sebagai alternatif terhadap narasi agung (narasi besar), serta mengemukakan konsep perbedaan dan language games sebagai alternatif terhadap kesatuan (unity).
2. Penolakan terhadap Grand Narative
Bagi Lyotard penolakan posmodern terhadap narasi agung sebagai salah satu ciri utama dari postmodern, dan menjadi dasar baginya untuk melepaskan diri dari Grand- Narative (Narasi Agung, Narasi besar, Meta Narasi) . Baginya Ilmu Pengetahuan pramodern dan modern mempunyai bentuk kesatuan (unity) yang didasarkan pada ceritacerita besar (Grand-Naratives) yang menjadi kerangka untuk menjelaskan berbagai permasalahan penelitian dalam skala mikro bahkan terpencil sekalipun. Cerita Besar itu menjadi kerangka penelitian ilmiah dan sekaligus sebagai justifikasi keilmiahan. Grand- Naratives (Meta-narasi) adalah teori-teori atau konstruksi dunia yang mencakup segala hal dan menetapkan kriteria kebenaran dan objektifias ilmu pengetahuan. Dengan konsekuensi bahwa narasi-narasi lain diluar narasi besar dianggap sebagai narasi nonilmiah. Sebagaimana di jelaskan sebelumnya bahwa sains modern berkembang sebagai pemenuhan keinginan untuk keluar dari penjalasan pra ilmiah seperti kepercayaan dan mitos-mitos yang dipakai masyarakat primitif. Namun dalam pandangan kaum postmodernis termasuk Lyotard bahwa sains ternyata tidak mampu menghilangkan mitos-mitos dari wilayah ilmu pengetahuan. Sejak tahun 1700-an (abad pencerahan) dua narasi besar telah muncul untuk melegitimasi ilmu pengetahuan, yaitu : kepercayaan bahwa ilmu pengetahuan dapat membawa umat manusia pada kemajuan (progress).
Namun era modern telah membuktikan banyak hal yang tidak rasional dan bertentangan dengan narasi besar itu seperti perang dua II, pembunuhan sekitar 6 (enam) juta yahudi oleh Nazi Jerman, hal ini menurut Lyotard merupakan bukti dari kegagalan proyek modernitas. Ambruknya ideologi marxisme-komunisme dan cerai-berainya Unisoviet, runtuhnya tembok Berlin, terjadi sepuluh tahun setelah penolakan Lyotard terhadap Narasi itu.
Penolakan terhadap metanarasi/grandnarasi berarti menolak penjelasan yang sifatnya universal/global tentang realitas, tentang tingkah laku dan sebagainya. Lyotard juga menyatakan bahwa pengetahuan tidak bersifat metafisis, unifersal, atau transendental (esensialis), melainkan bersifat spesifik, terkait dengan ruang-waktu (historis). Bagi pemikir postmodern ilmu pengetahuan memiliki sifat prespektifal, posisional dan tidak mungkin ada satu prespektif yang dapat menjangkau karakter dunia secara objektif-universal.
Memudarnya kepercayaan terhadap metanarasi disebabkan oleh proses delegitimasi atau krisis legitimasi, di mana fungsi legitimasi narasi-narasi besar mendapatkan tantangan berat. Contoh delegitimasi adalah apa yang dialami oleh sains sejak akhir abad ke-19 sebagai akibat perkembangan teknologi dan ekspansi kapitalisme.
Dalam masyarakat pascaindustri, sains mengalami delegitimasi karena terbukti tidak bisa mempertahankan dirinya terhadap legitimasi yang diajukannya sendiri. Legitimasi sains pada narasi spekulasi yang mengatakan bahwa pengetahuan harus dihasilkan demi pengetahuan di masa capitalist technoscience tidak bisa lagi dipenuhi. Pengetahuan sains tidak lagi dihasilkan demi pengetahuan melainkan demi profit di mana kriterium yang berlaku bukan lagi benar/salah, melainkan kriterium performatif: maximum output with a minimum input (menghasilkan semaksimal mungkin dengan biaya sekecil mungkin).
Sains adalah permainan bahasa yang di dalamnya terkandung aturan-aturan normatif (misalnya pembuat proposisi tidak boleh membuat proposisi tanpa menyediakan bukti yang memperkuat proposisinya, pihak kedua tidak bisa memberikan bukti melainkan hanya memberi persetujuan atau penolakannya). Sains dihadapkan pada kenyataan bahwa ia tidak bisa memberlakukan aturan mainnya secara universal hingga berhak menilai mana pengetahuan absah dan mana yang tidak. Lyotard yakin bahwa kita memasuki fase di mana logika tunggal yang diyakini kaum modernis sudah mati digantikan oleh pluralitas logika atau paralogi.
Ketika kita ingin menjelaskan tentang manusia maka kita memiliki berbagai bidang ilmu, berbagai paradigma, dan prespektif, ini menunjukkan heterogenitas fenomena, pluralitas perspekstif yang menghasilkan polivokalitas., lokalitas pengetahuan (keanekaragaman wacana). Perspektivisme tentang ilmu pengetahuan yang berasal dari Nietzche digunakan Lyotard untuk menolak pandangan ilmu pengetahuan yang universal dan total. Menurutnya tidak ada perspektif tunggal tentang realitas objektif yang universal. Manusia tidak memiliki akses untuk melihat dunia sebagaimana nyatanya, anggapan dan keinginan untuk mencapai itu adalah sia-sia. Kebutuhan dan keinginan untuk menemukan kebenaran ilmu pengetahuan, sesungguhnya hanyalah sekedar istilah yang mengacu pada wacana (discourse) yang berhasil dan bermanfaat. Ini berlaku bagi semua pengetahuan dan logika yang selalu bersifat profesional dan perspektif.
Pada situasi postmodern ini ilmu pengetahuan dan filsafat bertujuan bukan lagi untuk penemuan kebenaran (apalagi kebenaran tunggal) akan tetapi lebih pada tujuan performatif dan nilai-nilai pragmatis. Dalam pandangan Lyotard relativisme dan kebenaran absolut sama-sama memiliki kelemahan. Kelemahan pandangan kebenaran absolut-universal adalah karena pada kenyataannya ilmuwan memiliki keterbatasan ketika menghadapi (meneliti) realitas. Apalagi kebenaran teori juga bersifat tentatif atau propabilitas, sehingga pandangan bahwa teori bersifat benar secara absolut-universal tidak dapat dibenarkan. Di sisi lain perspektivisme mengarahkan kita pada relativisme ilmiah, tetapi relativisme ilmiah ini tidak identik dengan penolokan akan kebenaran, akan tetapi mengakui kebenaran ilmu yang relatif, yaitu kebenaran sesuai dengan perspektif/paradigma yang digunakan. Bisa jadi perspektif tertentu dianggap lebih memilki kesempurnaan dibanding perspektif yang lain karena lebih akurat, lebih mendekati kebenaran dan lebih berguna.
3. Language Games
Jean Francois Lyotard menolak untuk menyusun sebuah cara pandang tunggal (paradigma tunggal) yang menyatakan tentang adanya berbagai paradigma, perspektif dalam melihat realitas (dunia). Pandangan modern digantikan dengan postmodern, singgasana ilmu pengetahuan digantikan oleh hermeneutika (penafsiran) tentang realitas. Kebenaran ilmu mengacu pada spisifikalitas, historisitas dan linguistikalitas.
Sains setelah mengalami krisis legitimasi terbukti bukan lagi pemonopoli kebenaran tunggal, karena dihadapkan pada kenyataan bahwa dirinya sekedar satu dari sekian banyak permainan bahasa. Permainan bahasa sains adalah permainan bahasa denotatif. Aturan main permainan bahasa denotatif adalah sebuah pernyataan harus disertai bukti dari pihak yang mengajukan pernyataan untuk meyakinkan pihak kedua sebagai pihak yang wajib memberikan persetujuan atau penolakan berdasarkan bukti yang diajukan pihak pertama.
Terjadinya pergantian paradigma ilmiah dari mono-paradigma menjadi multi-paradigma ini dianggap sebagai terjadinya keterputusan epistimologis. Ia kemudian membatasi ilmu pengetahuan sebagai permainan bahasa dan mengungkapkan konsep Language games yang mengacu pada keanekaragaman penggunaaan bahasa dapam kehidupan sehari-hari, dimana masing-masing bahasa menggunakan aturannya sendiri-sendiri.
Konsep permainan bahasa ini merupakan pergeseran dari bahasa sebagai cermin realitas kepada bahasa sebagai suatu permainan, yang memiliki aturan sebagai berikut :
1. Only denotative (descriptive) statements are scientific. (pernyataan atau proposisi ilmiah adalah pernyataan denotatif (descriptif).
2. Scientific statements are Quite different from thode (concerned with origins) constituting the social bond. (Proposisi ilmiah berbeda dengan proposisi yang menekankan ikatan social atau yang terkait dengan asal-asul).
3. Competence is only required on the part of the sender of scientific massage, not on the part of the receiver. (kompetensi hanya diperlukan pada pengirim bukan pada penerima)
4. A Scientific statements only exist within aseries of statements wich are validated by argument and by proof. (Proposisi ilmiah adalah sekumpulan pertanyaan yang dapat diuji oleh bukti dan argument).
5. In light of (4) the scientifict language game requires a knowledge of the existing state of scientifict knowledge. Science no longer requires a narrative for its legitimation, for the rules of science are immanent in its game. (Berkaitan dengan 4 point diatas konsep ini mengharuskan pemahaman tentang situasi pengetahuan ilmiah yang sedang berlangsung. Untuk legitimasi ilmiah, ilmu pengetahuan tidak memerlukan satu narasi (meta narasi) karena aturan-aturan ilmiah itu bersifat imanen dalam permainannya (paradigmanya sendiri). (Leche, 1994, sebagaimana dikutip oleh Lubis, 2006)
Berbagai upaya untuk mengklasifikasikan atau meninterpretasikannya tidak hanya menyebabkan distorsi tetapi merupakan suatu tindakan imperialisme. Agar ilmu pengetahuan berkembang dan pernyataan ilmiah dapat diterima diperlukan sekelompok ilmuwan yang menerima konsensus dalam bidang ilmiah yang menjadi fokus perhatiannya. Sementara itu, bila pemikirannya semakin rumit, maka bentuk pembuktiannya akan semakin rumit juga serta rumit pula bentuk teknologi yang diperlukan untuk mencapai tahap validitas yang diterima oleh pendukungnya.
Lyotard juga mengembangkan konsep perbedaan difference. Sesuai dengan konsep pluralitas budaya, pluralitas permainan bahasa, ada banyak genres de discours (wacana), maka postmodern menghargai adanya perbedaan, membuka suara bagi yang lain (the other), penghargaan pada pendekatan lokal, regional, etnik, baik pada masalah sejarah, seni, politik, dan masyarakat. Penelitian yang bersifat lokal, etnik, menghasilkan deskripsi atau narasi khas dengan rezim frase dan genre diskursus masing-masing.
4. Antifundasionalisme
Antifundasionalisme sering dikaitkan dengan anti esensialisme. Esensialisme adalah keyakinan filosofis yang percaya bahwa objek – objek memiliki esensi (hakekat) dan esensi itulah yang memungkinkan adanya objek/ realitas. Namun sebagian filsuf berkeyakinan bahwa esensi itu tidak dapat ditemukan secara langsung melalui sarana ilmiah (pengamatan). Dalam filsafat ilmu pengetahuan esensialisme itu diwujudkan dalam kepercayaan bahwa ilmu pengetahuan dapat menemukan kebenaran objektif, kekal, dan mutlak. Dalam filsafat bahasa, diwujudkan dalam keyakinan kemampuan bahasa untuk menjelaskan realitas/ membekukan realitas secara benar. Keyakinan inilah yang sesungguhnya mendasari positivisme logis yang percaya bahwa dengan menggunakan metode dan bahasa yang transparan (metode dan bahasa verifikatif), ilmuwan dapat menemukan kebenaran objektif- universal. Inilah yang disebut Derrida dengan logosentrisme yang menguasai kebudayaan Barat, dan Derrida menolak/ mendekonstruksikan pandangan logosentrisme itu.
Antifundasionalis dalam teori sosial – budaya dan filsafat menegaskan bahwa metanarasi ( metode humanisme, sosialisme, universalisme) yang dijadikan fundasi dalam modernitas Barat dan hak – hak istimewanya adalah cacat. Karena itu, kita harus mencoba untuk menghasilkan mode pengetahuan yang lebih sensitif terhadap berbagai bentuk perbedaan. Hal ini dimungkinkan ketika para intelektual mengganti peran mereka sebagai legislator kepercayaan menjadi seorang interpreter (Lubis, 2004: 72). Karena itu posmodernis lebih menerima metode interpretasi (hermeneutika) daripada pendekatan logika/ metode linear yang dominan pada era modern.
Posmodernis menekankan penghargaan pada perbedaan dengan:
1. Pemberian hak istimewa pada hal – hal yang bersifat lokal dan vernakuler ini diterjemahkan sebagai seorang demokrat dan populis yang menghancurkan hierarki simbolik di kalangan akademi dan intelektual serta seni( perbedaan seni tinggi dan populer dihilangkan).
2. Peralihan dari bentuk budaya diskursif ke arah bentuk budaya figural yang tampak pada penekanan dan image visual dan bukan kata – kata, proses primer ego dan bukan proses sekunder, apresiasi dengan cara mengambil jarak dari penonton yang tidak memihak (Lash, 1988)
3. Aspek ini ditangkap sebagai fase “budaya dangkal posmodern” (Jameson, 1984)
5. Pandangan Terhadap Pemikiran Lyotard
Pandangan posmodern dalam hal ini pemikiran Lyotard menyatakan bahwa makna terhadap sesuatu itu tidak hanya satu. Penolakan terhadap metanarasi/grandnarasi berarti menolak penjelasan yang sifatnya universal/global tentang realitas, tentang tingkah laku dan sebagainya. Lyotard juga menyatakan bahwa pengetahuan tidak bersifat metafisis, unifersal, atau transendental (esensialis), melainkan bersifat spesifik, terkait dengan ruang-waktu (historis). Bagi pemikir postmodern ilmu pengetahuan memiliki sifat prespektifal, posisional dan tidak mungkin ada satu prespektif yang dapat menjangkau karakter dunia secara objektif-universal.
Terjadinya pergantian paradigma ilmiah dari mono-paradigma menjadi multi-paradigma ini dianggap sebagai terjadinya keterputusan epistimologis. Ia kemudian membatasi ilmu pengetahuan sebagai permainan bahasa dan mengungkapkan konsep Language games yang mengacu pada keanekaragaman penggunaaan bahasa dapam kehidupan sehari-hari, dimana masing-masing bahasa menggunakan aturannya sendiri-sendiri.
Jika dilihat dari sisi epistemologis, skala berpikir yang disodorkan oleh teori postmodernis sangatlah dangkal. Banyak paradoks yang akan kita dapati dari teori tersebut, jika dipaksakan pada dataran praksis akan terjadi apa yang disebut dengan “nihilisme”, kekosongan. Kosong dari prinsip, ideologi, argumentasi rasional, logika sehat, pemahaman teks, konsep beragama dsb. Menurut keyakinan postmodernisme, tidak ada satu hal pun yang bersifat universal dan permanen. Sedang disisi lain, doktrin mereka, manusia selalu dituntut untuk selalu mengadakan pergolakan. Kemudian bagaimana mungkin manusia akan selalu mengadakan pergolakan, sementara tidak ada tolak ukur jelas dalam penentuan kebenaran akan pergolakan? Bagaimana mungkin manusia selalu mengkritisi segala argumentasi yang muncul, sedang tidak ada tolok ukur kebenaran berpikir? Bagaimana mungkin manusia bisa beragama, sedang konsep beragama harus dibarengi dengan keimanan, sementara menurut postmodernis tidak ada keimanan dan keyakinan universal dan permanen? dan masih banyak lagi persoalan-persoalan yang bisa dimunculkan dari asas-asas dasar postmodernisme.
Sebagaimana postmodernis selalu menekankan untuk mengingkari bahkan menentang hal-hal yang bersifat universal dan permanen. Maka atas dasar postmodernisme pula seseorang dapat menggugat keuniversalan dan kepermanenan asas-asasnya yang telah mereka sepakati. Jadi, atas dasar pemikiran postmodernisme seorang individu dapat menolak postmodernisme, hal itu dikarenakan postmodernisme tidak meyakini adanya prinsip logika yang jelas dalam menentukan tolok ukur kebenaran berpikir, relativitas kebenaran. Ini salah satu bukti dari sekian banyak kerancuan berpikir dalam konsep postmodernisme.

DAFTAR PUSTAKA

Best, Steven and Kellner, Douglas. 1991. Postmodern Theory Critical Interrogations.New York. The Guildford Press
Huda, Nurul 2006. Jameson, Posmodernisme, dan Logika Kapitalisme Lanjut.
Lubis, Akhyar Yusuf. 2004. Filsafat Ilmu dan Metodologi Postmodernis. Bogor : Akademia.
Lubis, Akhyar Yusuf. 2003. Setelah Kebenaran dan Kepastian dihancurkan Masih Adakah tempat Berpijak Bagi Ilmuwan. Bogor : Akademia.
http://nurulhuda.wordpress.com/2006/11/24/jameson-posmodernisme kapitalisme/Diakses tanggal 10 Desember 2012

http://en.wikipedia.org/wiki/Postmodernism

http://www. itu.dk/courses/VV/E2000/Frank-PoMo.doc.
Muchtar Luthfi. 2007. Postmodernisme: Fatamorgana Alam Khayal.
Stanley J. Grenz. Postmodernisme: Sebuah Pengenalan http://www. sabda.org/reformed/etos_postmodern, diakses tanggal 16 Desember 2012
Williams, James.2005. Understanding Poststructuralism.Malta. Guttenberg Press

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s