Analisis konteks “School Bullies Prey on Children with Autism”

Analisis Konteks Pada Artikel New York Times
“School Bullies Prey on Children With Autism”

IRENE DEBORA
Abtract
This paper examined the types of context in an New York Times Article “School bullies Prey on Children with Autism” through Contextual Phenomena of Renkema. The research deals with the issue of Bullying among children in American school especially with the special children who has lackness in their life called Asperger syndrome in type Autism. The article explained and tried to find out the social life or social factor of children who got the bullying. The interview of some autism children in some books as an evidence and intertextuality supported the research about the context of the article.
Keywords
Konteks, bullying, autisme, faktor sosial, intertekstualitas

Pendahuluan
Bullying atau mengolok- olok adalah salah satu masalah yang sering dihadapi khususnya dalam bidang pendidikan. Bullying merupakan kasus intimidasi atau ancaman yang dilakukan pada seseorang. Bullying berdampak secara fisik maupun psikis. Korban bullying pada umumnya tidak memiliki daya untuk membalas ataupun melawan pelaku sehingga rasa marah dan kesal hanya dipendam. Akhirnya berdampak pada terganggunya jiwa sang korban seperti depresi, mudah stres dan cemas. Dampak jangka panjang dari kasus bullying yang menimpa seorang anak merupakan sesuatu yang perlu dikhawatirkan karena menimbulkan masalah psikologis, cedera serius atau kematian. Korban bullying akan berpotensi melakukan tindakan seperti memotong atau menggigit lengan, membenturkan kepalanya ke dinding atau bahkan mencoba bunuh diri.
Dalam bidang pendidikan khususnya di sekolah, kasus bullying merupakan kasus yang sangat sulit diatasi. Bullying terjadi mulai dari pendidikan tingkat sekolah dasar bahkan tingkat perguruan tinggi. Dalam kasus ini, ternyata ditemui fakta bahwa tidak hanya siswa yang normal yang menjadi korban, hal yang mengejutkan adalah bahwa kasus tersebut terjadi pada siswa yang memiliki kebutuhan khusus atau dalam hal ini disebut dengan autisme.
Farrell (2006) menyatakan bahwa “ Autisme adalah salah satu sindrom yang membuat seseorang kesulitan dalam bersosialisasi, berkomunikasi, dan bertingkah laku tertutup. Seseorang dinyatakan memiliki sindrom autisme jika memiliki ciri – ciri :
a. Kegagalan untuk mengembangkan hubungan antar individu seperti perkembangan anak normal lainnya
b. Kesulitan untuk mengungkapkan reaksi spontan terhadap kebahagian, rasa tertarik terhadap sesuatu, atau pencapaian hasil
c. Kesulitan untuk mengungkapkan reaksi emosional
Jones (2002) mengungkapkan bahwa anak yang mengalami sindrom autisme dalam komunikasi dan bahasa tindakan akan memahami tujuan komunikasi, memulai komunikasi dengan orang lain, tidak mampu untuk mengungkapkan rasa tertarik terhadap orang lain, keterlambatan dalam pembelajaran berbicara, memliki keterbatasan gerak tubuh, kontak mata, ekspresi wajah atau bahasa tubuh, memiliki banyak kosakata tetapi tidak dapat berkomunikasi dengan baik, dan memiliki masalah dengan waktu serta terhadap komunikasi sosial.
Kekurangan – kekurangan yang dimiliki oleh anak yang berkebutuhan khusus seperti ini yang mengakibatkan adanya bullying yang dilakukan oleh anak normal dalam sekolah. Dalam hal ini, kejadian seperti ini dialami oleh seorang anak yang sedang menempuh pendidikan di salah satu sekolah di Amerika Serikat
bernama Baltimore-area senior high school yang menderita sindrom Asperger salah satu bentuk autisme.
Berdasarkan artikel yang terdapat pada New York Times Online Magazine orang tua dari siswa penderita Asperger melaporkan bahwa ada keanehan yang terjadi pada anaknya terkait dengan situasi sekolahnya. Anaknya menjadi lebih pendiam, nilainya mulai menurun dan tidak mau menceritakan apa yang terjadi. Untuk itulah pentingnya diteliti konteks yang terdapat dalam artikel untuk mengetahui jenis – jenis konteks apa saja yang terkandung dalam artikel sehingga terlihat jelas keadaan yang sebenarnya terjadi pada anak berkebutuhan khusus tersebut.
Analisis Konteks terhadap Artikel New York Times
Berdasarkan KBBI, konteks merupakan bagian suatu uraian atau kalimat yg dapat mendukung atau menambah kejelasan makna. Dalam suatu wacana, suatu makna dapat dipahami jika memiliki situasi – situasi yang mendukung. Pada penelitian ini akan dijelaskan beberapa jenis konteks yang terdapat pada artikel New York Times “School Bullies Prey on Children With Autism”.
Renkema (2004) menjelaskan ada beberapa jenis konteks yaitu : deiksis, staging, perspectivication atau sudut pandang, informasi lama-baru, praanggapan, dan perikutan – implikatur.
1. Deiksis
Kata deiksis berasal dari Yunani yang berarti “menunjuk”, yang digunakan pada elemen bahasa yang mengacu secara langsung pada situasi wacana. Penelitian tentang deiksis diinspirasi oleh Karl Buhlër (1934/1990) yang membedakan menjadi dua bidang dalam deiksis, yaitu Medan Deiktis (Deictic field/ das zeigffeld) dan Medan simbolik (Symbolic field/ das symbolfeld). (Renkema 2004 : 121).
Deiksis pada wacana terbagi tiga, yaitu pertama, deiksis personal, yang mengacu pada orang atau person. Biasanya deiksis person dapat diwakili dengan kata ganti (personal pronoun). Yang kedua, deiksis tempat, yang mengacu pada posisi pembicara dan pendengar. Ketiga, deiksis waktu, yang mengacu kepada waktu terjadinya wacana.
Pada wacana artikel terdapat beberapa jenis deiksis, yaitu:
a. Deiksis Personal
• Connie Anderson didn’t know what was bothering her 17-year-old son, a Baltimore-area high school senior with Asperger’s syndrome, a form of autism. He was usually a diligent student, but his grades began to plummet. “He was starting to go downhill fast,” Ms. Anderson said. “His grades were crashing, and he wasn’t able to focus.”
Pada alinea di atas, terdapat deiksis personal “He and His.” yang mengacu pada anak yang mengalami sindrom Asperger yang tidak ingin disebutkan namanya.
• Once, they had pulled his pants down to his knees in front of his class.
Dalam kalimat itu terdapat kata “they” yang mengacu kepada siswa- siswa yang melakukan bullying terhadap korban
b. Deiksis tempat
• a Baltimore-area high school senior with Asperger’s syndrome, a form of autism.
Pada wacana terdapat kata “Baltimore – area high school senior“ yang merupakan deiksis tempat dalam wacana.
• “I would call it a profound public health problem,” said Paul R. Sterzing, lead author of the new study and an assistant professor at the school of social welfare at the University of California, Berkeley. “The rate of bullying and victimization among these adolescents is alarmingly high.”
Pada kalimat di atas terdapat kata “at the University of California, Berkeley” yang merupakan deiksis tempat, dimana orang tua korban menemui seorang psikolog untuk menemukan penyelesaian dari masalah tersebut.
c. Deiksis waktu
Deiksis waktu dalam artikel terlihat pada kalimat “Research published on Monday in Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine shows that children with autism spectrum disorders, who typically have difficulty in communicating and forming relationships, are far more likely to be bullied than their non-autistic peers.” Yang menandakan bahwa penelitian tersebut diterbitakan pada hari Senin.

2. Staging
Staging merupakan fenomena atau masalah latar depan dan latar belakang (foreground and background) yaitu penentuan unsur wacana yang menjadi informasi penting. Prinsip kepala – ekor (head- tail). Semakin ke kiri semakin atau dekat dengan kepala informasi menjadi semakin penting. Dalam hal ini, terdapat beberapa kalimat pada artikel yang menyatakan prinsip ini.
• Connie Anderson didn’t know what was bothering her 17-year-old son, a Baltimore-area high school senior with Asperger’s syndrome, a form of autism. He was usually a diligent student, but his grades began to plummet.
Pada kalimat diatas kita dapat melihat bahwa aspek yang dipentingkan adalah sesuatu yang mengganggu anaknya sehingga bertingkah laku berbeda daripada yang biasa terlihat dari kata “what was bothering her 17-year-old son
• Many parents of children with autism already are well aware that their children are taunted and tormented at school, but the new study suggests the problem is pervasive.
Pada bagian ini dipaparkan bahwa hal yang dipentingkan yaitu banyaknya orang tua yang telah menyadari bahwa anaknya menjadi korban bullying di sekolah dan kajadian – kejadian itu semakin banyak terjadi.
3. Perspectivization
Istilah perspektif digunakan untuk mendeskripsikan sudut pandang. Dimana sudut pandang terdiri dari tiga, yaitu : (1) Visi yang merupakan pandangan yang mengacu pada ideologi, sistem norma, dan nilai sosial yang dianut. (2) Focalization merupakan sudut pandang naratif. (3) Empati, yang digunakan untuk mengidentifikasikan kedekatan penutur tehadap wacana.
Dalam wacana, terdapat perrnyataan ”While the problem of school bullying has received national attention, with many states passing anti-bullying legislation and school districts adopting anti-bullying programs, a troubling new pattern has emerged among victims. ….. The findings are based on data collected in 2001 from a larger 10-year study of more than 11,000 special education students. Parents of autistic children and school administrators were asked to report on instances of bullying that occurred in the previous year.”
Pernyataan itu mengacu kepada visi atau sudut pandang negara atau perhatian negara terhadap undang – undang anti-bullying dan sekolah di beberapa negara bagian mengadakan program anti-bullying, mengatasi masalah yang telah muncul di antara korban. Penelitian mencatat bahwa anak – anak yang mengalami gangguan seperti autisme yang biasanya merasa kesulitan dalam komunikasi dan interaksi sosial cenderung mengalami bullying dibandingkan dengan anak yang normal. Penemuan menyatakan bahwa berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 2001, sekitar 10 tahun pengamatan terdapat 11.000 anak – anak yang berkebutuhan khusus. Orang tua dari anak – anak autisme dan administrasi sekolah diminta untuk melaporkan kasus bullying yang terjadi di tahun sebelumnya.
Kemudian terdapat juga pernyataan “Connie Anderson didn’t know what was bothering her 17-year-old son, a Baltimore-area high school senior with Asperger’s syndrome, a form of autism. He was usually a diligent student, but his grades began to plummet. “He was starting to go downhill fast,” Ms. Anderson said. “His grades were crashing, and he wasn’t able to focus.” At a meeting with school counselors, the teenager finally spoke up, confessing that he was being bullied by students in the cafeteria. Once, they had pulled his pants down to his knees in front of his class.“ yang mencoba menceritakan kronologis kejadian dari pengamatan orang tua terhadap anak yang menjadi korban bullying. Connie Anderson yang merupakan orang tua korban melihat bahwa anaknya memiliki tingkah laku yang aneh, merasa curiga mengapa anaknya mengalami kemunduran di dalam sekolah, nilai – nilainya menurun, dan bersikap lebih pendiam. Kecurigaan ini membuat Anderson bertanya kepada pihak sekolah sehingga mendapatkan informasi tentang kejadian yang sebenarnya bahwa anaknya yang sebenarnya berkebutuhan khusus menderita sindrom Asperger mengalami bullying oleh teman – teman di sekolahnya. Anaknya diolok – olok oleh teman – temannya dan celananya ditarik hingga membuat korban merasa terintimidasi.
Dari informasi tersebut kita dapat melihat bahwa anak yang memiliki kekurangan juga mengerti bahwa dia mendapatkan perlakuan tidak baik dari teman – temannya. Empati ditimbulkan dari sang orang tua yang melaporkan kejadian melalui artikel dalam New York Times bahwa anaknya juga merupakan individu yang memiliki hak asasi (Human Right) dalam kehidupannya. Anaknya juga berhak menempuh pendidikan seperti anak normal lainnya dan tidak untuk menjadi korban intimidasi teman – temannya di sekolah.
4. Given – New Information
Given – new information merupakan informasi lama dan baru dalam sebuah wacana. Pada kalimat “Research published on Monday in Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine shows that children with autism spectrum disorders, who typically have difficulty in communicating and forming relationships, are far more likely to be bullied than their non-autistic peers.”, bagian research published on Monday in Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine merupakan informasi lama, dan shows that children with autism spectrum disorders, who typically have difficulty in communicating and forming relationships, are far more likely to be bullied than their non-autistic peers merupakan informasi baru pada wacana.
5. Presuposisi (Pra anggapan)
Presuposisi merupakan informasi yang terkandung di dalam suatu wacana. Pada wacana terdapat beberapa praanggapan yang dapat diambil:
• The children at greatest risk, it turns out, appear to be those who also hold the most promise for leading an independent life. Dari kalimat itu kita dapat membuat pra anggapan bahwa The children merupakan anak penderita autisme, yang diharapkan dapat lebih mandiri dalam kehidupan mereka.
• Because children with autism have limited communication skills, many may struggle to talk about bullying even to their parents. Others with impaired social skills may not always realize when they are being harassed.Dari kalimat itu kita dapat beranggapan bahwa anak autis memiliki kesulitan dalam berkomunikasi bahkan tidak mengerti bahwa mereka sebenarnya menjadi korban bullying.
6. Inference
Merupakan beberapa istilah bagi informasi yang tekandung dalam suatu wacana. Diantaranya (1) Entailment (perikutan) yaitu kesimpulan yang logis yang terdapat pada wacana, (2) Implikatur Konvensional. Grice menyatakan bahwa Implikatur konvensional merupakan kesimpulan yang bisa diambil melalui kebenaran umum ataupun pengetahuan umum seseorang, (3) Implikatur percakapan merupakan penarikan kesimpulan pada percakapan walaupun memiliki jawaban yang berbeda dari seharusnya.
Di dalam wacana terdapat kalimat “Children with autism spectrum disorder aren’t very good at picking up on things like sarcasm and humor,” said Dr. Bradshaw. “They can be set up and made fun of in front of groups and not understand it.” Dimana kita dapat mengambil kesimpulan bahwa anak penderita autisme tidak mengerti cara berkomunikasi dan sulit memperhatikan sesuatu khusunya dalam interaksi sosial kehidupannya. Kemudian pada kalimat “They knew that a little thing would throw him off his regimen,” she said. “If you stole his book or stole his homework, to him it would literally be a disaster. He would run around the schoolyard yelling, ‘Who’s got my homework?’ He didn’t have the skills to cope with that.”
To avoid the harassment, he began taking a car home from school, but one day the bullies pounced on him as he waited for his ride. The school intervened, punishing the bullies, and two of their parents called the boy’s mother to apologize kita dapat mengetahui bahwa anak autis merupakan anak yang mudah sekali merasakan kepanikan terhadap hal kecil dan sulit untuk mengatasi masalah mereka bahkan pengakuan dari korban bahwa buku tugas yang diambil oleh teman – temannya yang melakukan bullying padanya membuat sang anak tidak terkontrol dan mengendarai mobilnya ingin pulang ke rumahnya. Hal itu juga membuat sang anak terkejut karena temannya tidak berhenti mengganggu dengan berusaha untuk menghentikan kendaaraan yang dikemudikannya. Kejadian tersebut membuat pihak sekolah menghukum pelaku dan membuat orang tua pelaku meminta maaf pada keluarga korban.
Kajian Sosial Anak Berkebutuhan Khusus yang Mendapat Perlakuan Buruk di Sekolah
Espelage (2004) dalam bukunya Bullying in American School menyatakan bahwa No one can deny that American children and youth have faced a series of challenges to their sense of safety and security in recent years. …. In the space of one day kids around the country were confronted with cataclysmic images of disaster that threatened their confidence in the ability of their society to protect them . Hal ini menyadarkan kita bahwa di kota besar bahkan di Amerika yang merupakan kota modern masih banyak terdapat kasus – kasus kekerasan ataupun pelanggaran hukum bahkan pada anak usia sekolah seperti yang telah dibahas pada artikel New York Times dia atas.
Anak – anak yang seharusnya merasa aman dalam menuntut ilmu di sekolah mendapat hambatan dan tantangan secara fisik maupun mental dari temannya sendiri. Kejadian – kejadian ini membuat kehidupan sosial mereka sebagai anak – anak menjadi terganggu. Jika anak normal saja merasa terganggu bagaimana dengan anak – anak yang memiliki kebutuhan hidup? Apakah mereka tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak? Apakah mereka tidak dapat merasakan kehidupan sosial yang baik?
Identitas sosial seperti yang dinyatakan dalam De Fina (2006 : 3) “Identity claims are seen as “acts” through which people create new definitions of who they are” terlihat dalam artikel ini. De Fina menambahkan bahwa identitas sosial tersebut dibentuk pada beberapa tingkatan yaitu melalui hubungan antara penutur dan wacana yang dibahas, melalui penutur dan yang lain atau antara penutur dan petutur, hubungan yang digambarkan dalam konten proposisi tuturan, dan hubungan dengan ideologi. Tingkah laku yang ditunjukkan oleh anak yang berkebutuhan khusus membuat mereka berbeda dalam pandangan anak normal sehingga timbul anggapan bahwa anak autisme ini mudah sekali diganggu. Dari situasi dan kondisi yang dilihat oleh anak – anak di sekolah bahwa ada perbedaan antara mereka dan anak autisme membuat mereka merasa ingin mengolok – olok anak autisme yang berbeda dari mereka.
Identitas sosial yang didapat oleh anak – anak autis membuat mereka dirasa berbeda dan aneh oleh anak – anak lain yang normal. Berdasarkan Espelage (2004) anak – anak yang berada di Amerika sering mengalami bullying di sekolah menyebabkan kemarahan, kesulitan bersosialisi, dan penurunan prestasi membuat para guru dan staff sekolah berusaha mencegah dan memberikan pertolongan kepada mereka.
Seperti pernyataan dari anak korban bullying yang telah diwawancarai bahwa mereka mengungkapkan :
I was talking about someone just to fit in with the group and then later on they were crying and I would be like, ‘Why did I do that?’
—8th-grade female bully
Students bully so they can be a part of a group and they do it so the group will
respect them more. I used to do it with my friends, but now I don’t because it hurts people. . . .
—7th-grade male bully
Ungkapan mereka menyatakan bahwa, mereka tidak tahu mengapa menangis pada saat bergaul dengan teman – temannya karena selalu dibicarakan oleh mereka. Salah satunya menyatakan bahwa korba merasa tersakiti dengan perbuatan yang dilakukan oleh teman – teman sekelompoknya.Ungkapan tersebut membuat peneliti menyadari bahwa ternyata di satu waktu anak berkebutuhan khusus juga menyadari bahwa diri mereka kurang diterima dalam lingkungan sosial. Ketika mereka tidak mampu membentuk identitas sosial seperti yang dipaparkan De Fina, maka mereka akan dianggap berbeda dan menjadi bahan olok – olok oleh teman mereka sendiri.
Untuk itulah dalam bukunya Handbook of Bullying in Schools Jimerson ( 2010: 49) menyatakan bahwa cara mendasar untuk mengurangi bullying di sekolah adalah menciptakan iklim sekolah yang positif yang yang membantu perkembangan tingkah laku anak. Lingkungan dimana anak menghabiskan waktu seperti bekerja dan sekolah akan membentuk tingkah laku anak. Situasi yang baik yang memiliki sistem nilai, komunikasi, dan peraturan yang baik. Tingkah laku yang beretika di sekolah, memusatkan pada pengendalian tingkah laku merupakan pendukung bagi anak dalam pencapaian hasil belajar dan karakteristik lingkungan di sekolah. Sebuah sekolah yang memiliki iklim positif, membuat guru dan siswa merasa nyaman dan dapat memberikan yang terbaik terhadap pelajaran. Bagaimana anak autisme akan merasa tenang, jika lingkungan mereka membuat mereka merasa tersisih dari masyarakat bahkan mendapat penyiksaan secara fisik dan mental.
Kesimpulan
Setiap individu tercipta berbeda beda. Baik dari segi fisik maupun kecerdasan dan mental. Dalam hal ini, kita perlu menyadari bahwa setiap individu berbeda dan memiliki kelebihan dan kekurangan masing – masing sehingga tidak ada lagi kekerasan yang terjadi akibat tidak memahami satu sama lain. Dengan menyadari bahwa setiap orang memiliki hak dasar untuk hidup dan berada pada satu lingkungan sosial walaupun memiliki kekurangan membuat keharmonisan dan kenyamanan dalam lingkungan sosial menjadi satu hal yang mungkin tercipta di tengah – tengah kita.
Kasus yang terjadi di sekolah – sekolah Amerika bahkan di negara lain seperti Jepang, Korea, Malaysia, dan Indonesia menggambarkan bahwa kehidupan sosial anak juga perlu diperhatikan terlebih lagi anak yang berkebutuhan khusus. Banyak pihak yang harus dilibatkan secara langsung dalam hal ini. Kita tidak bisa menganggap kasus bullying di lingkungan sekolah adalah hal yang kecil karena dari penelitian menyimpulkan bahwa terdapat banyak akibat fatal yang disebabkan oleh bullying.
Pentingnya kerja sama antara orang tua dan guru juga bisa mencegah bullying yang terjadi di sekolah. Bagi orang tua, tetap tenang dan berusaha untuk membuat anak autisme tetap merasa diterima di lingkungan akan memberikan kepercayaan diri kepada anak, sehingga kondisi mental anak tetap stabil. Sementara itu, lebih memperhatikan penyebab dari pelaku melakukan tindakan bullying juga dapat mengurangi tindakan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Espelage , Dorothy, Swearer Susan. (2004). Bullying in American Schools : A Social-Ecological Perspective on Prevention and Intervention. New Jersey. Lawrence Erlbaum Associates, Inc.
Farrell, Michael. (2006). The Effective Teachers; Guide to Autism and Communication Difficulties: Practical Strategies. New York. Routledge
Jhonstone, Barbara. (2001). Discourse Analysis. Oxford. Blackwell Publishers Ltd.
Jimerson, Shane. Swearer Susan, Espelage, Dorothy. (2010). Handbook of Bullying in Schools : An International Perspective. New York. Routledge
Renkema, Jan. (2004). Introduction to Discourse Studies. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company.

Lampiran Artikel
September 3, 2012, 4:01 pm

School Bullies Prey on Children With Autism
By ANAHAD O’CONNOR
Connie Anderson didn’t know what was bothering her 17-year-old son, a Baltimore-area high school senior with Asperger’s syndrome, a form of autism. He was usually a diligent student, but his grades began to plummet.
“He was starting to go downhill fast,” Ms. Anderson said. “His grades were crashing, and he wasn’t able to focus.”
At a meeting with school counselors, the teenager finally spoke up, confessing that he was being bullied by students in the cafeteria. Once, they had pulled his pants down to his knees in front of his class.
While the problem of school bullying has received national attention, with many states passing anti-bullying legislation and school districts adopting anti-bullying programs, a troubling new pattern has emerged among victims. Research published on Monday in Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine shows that children with autism spectrum disorders, who typically have difficulty in communicating and forming relationships, are far more likely to be bullied than their non-autistic peers.
“I would call it a profound public health problem,” said Paul R. Sterzing, lead author of the new study and an assistant professor at the school of social welfare at the University of California, Berkeley. “The rate of bullying and victimization among these adolescents is alarmingly high.”
The children at greatest risk, it turns out, appear to be those who also hold the most promise for leading an independent life. The researchers found that the risk of being bullied was greatest for high-functioning children who end up not in special education programs, but in mainstream classes, where their quirks and unusual mannerisms stand out and they are more exposed to bullies.
Many parents of children with autism already are well aware that their children are taunted and tormented at school, but the new study suggests the problem is pervasive. Dr. Sterzing’s data, collected from a nationally representative sample of 920 middle- and high-school students with an autism disorder, shows that 46 percent have been bullied. By comparison, in the general adolescent population, an estimated 10.6 percent of children have been bullied.
Dr. Sterzing’s study also showed that children were at highest risk for bullying if they also had a diagnosis of attention deficit hyperactivity disorder. Notably, children with A.D.H.D. also were more likely to display aggressive behavior themselves; however, the rate of bullying perpetrated by children with autism was 14.8 percent, similar to the rate estimated for the general population.
The findings are based on data collected in 2001 from a larger 10-year study of more than 11,000 special education students. Parents of autistic children and school administrators were asked to report on instances of bullying that occurred in the previous year.
Children and adults with autism spectrum disorders often are socially awkward and have difficulty communicating and recognizing social cues. Another hallmark of the disorder is a strict adherence to rituals and habits.
“Many of the defining characteristics of autism are the ones that put them at greatest risk of bullying,’’ said Dr. Catherine Bradshaw, deputy director of the Center for the Prevention of Youth Violence and an expert on bullying at Johns Hopkins University.
Bullying of children with autism disorders most often occurs as teasing and name-calling, being shunned from activities and hitting.
Dr. Paul A. Law, director of the Interactive Autism Network at the Kennedy Krieger Institute in Baltimore, said middle school can be particularly perilous for high-functioning children with autism who lack social skills, because it represents a time when peers can be especially unforgiving of social missteps.
“Social interactions are extremely complicated at these younger ages,” said Dr. Law. “It doesn’t take long sitting in a middle school cafeteria to see that.”
Dr. Law said his group has found that children with an autism spectrum disorder are victimized at a rate more than three times that of their non-autistic siblings.
One mother of a high-functioning autistic teenager in Los Angeles, who asked that her name not be published to protect her son’s privacy, recalled that he was routinely bullied by a group of middle-school classmates who would pick on him at the playground or ambush him or throw things as he walked home from school.
“They knew that a little thing would throw him off his regimen,” she said. “If you stole his book or stole his homework, to him it would literally be a disaster. He would run around the schoolyard yelling, ‘Who’s got my homework?’ He didn’t have the skills to cope with that.”
To avoid the harassment, he began taking a car home from school, but one day the bullies pounced on him as he waited for his ride. The school intervened, punishing the bullies, and two of their parents called the boy’s mother to apologize.
Because children with autism have limited communication skills, many may struggle to talk about bullying even to their parents. Others with impaired social skills may not always realize when they are being harassed.
“Children with autism spectrum disorder aren’t very good at picking up on things like sarcasm and humor,” said Dr. Bradshaw. “They can be set up and made fun of in front of groups and not understand it.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s