Analisis Wacana Naratif

KAJIAN WACANA NARATIF
“Mengapa Memilih Melanjutkan Studi di Universitas Indonesia?”

OLEH : IRENE DEBORA
NPM : 1206188591

Jurusan Ilmu Linguistik
Program Magister Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia

KAJIAN WACANA NARATIF
Latar Belakang
Makalah ini merupakan penerapan dari teori narasi hasil wawancara penulis dengan salah seorang teman. Pertanyaan yang dikemukakan oleh penulis adalah : “Mengapa kamu memilih untuk kuliah di Pasca Sarjana Universitas Indonesia?” dan jawaban dari pertanyaan tersebut dihasilkan dalam bentuk narasi yang dianalisis oleh penulis menurut teori William Labov dan Joshua Waletzky (1967) . Pertanyaan diajukan dalam bentuk wawancara untuk mengetahui kisah hidup seseorang melalui beberapa pendekatan yaitu, pendekatan secara sosiolinguistik dimana wawancara ini bertujuan untuk mencari tahu hubungan antara karakter sosial narator dengan struktur cerita yang diutarakan sehingga konsep yang diutarakan oleh Labov dan Walletzky dalam Renkema 2004 yaitu “to find out if there were correlations between the social characteristics of storytellers and the structure of their stories” dapat terjawab, selain itu terdapat pendekatan secara psikolonguistik, dimana menurut Renkema (2004) bahwa jawaban yang diberikan akan berupa cerita (story) yang terdiri dari penetapan waktu, tempat maupun episode atau rangkaian kejadian yang dialami. Rangkaian kejadian itulah yang terbagi menjadi bagian awal, bagian pengembangan, dan bagian akhir (Renkema 2004 : 196).
Rangkaian kejadian yang diceritakan akan dianalisis secara struktural seperti yang dikemukakan oleh Labov dalam Johnstone bahwa narasi terdiri dari kumpulan klausa atau rangkaian klausa yang berurutan berdasarkan enam elemen. Elemen – elemen tersebut adalah (1) abstract, (2) orientation, (3) complicating action , (4) result or resolution, (5) evaluation dan (6) coda.

Analisis Narasi Labov
Struktural Klausa Naratif
Dari hasil wawancara, unsur – unsur narasi yang dapat dianalisis diambil dari kesimpulan pemikiran Labov dan Waletzky, sehingga didapatlah penjabaran seperti di bawah ini :
Unsur Klausa Narasi Hasil Wawancara
Abstract : Berisi klausa yang menjadi bagian awal dari cerita narasi. Di dalam abstract dinyatakan topik apa yang akan diceritakan atau dikemukakan oleh narator. Dapat dilihat pada kalimat yang dicetak tebal, bahwa narator mengungkapkan bagian abstract tentang cita – cita sebagai apa yang akan dibahas di paragraf selanjutnya. (1) Aku sudah bercita-cita menjadi dosen sejak pertama kali aku mengenal istilah cita-cita itu sendiri.

Orientation : Di dalam cerita dinyatakan perkenalan karakter, waktu, tempat, dan situasi.
Narator adalah Fauziatul Husna, yang berasal dari Padang. (2) Eh iya, Aku Fauziatul Husna, biasa dipanggil Uzi. Aku asalnya dari Padang, dan orang tuaku tinggal di sana. Lanjut yang tadi ya.

Complicating action : klausa – klausa dalam narasi yang menggambarkan rangkaian permasalahan yang dialami oleh narator. Biasanya permasalahan akan mencapai puncaknya sebagai klimaks dari cerita.
Complicating : Narator bimbang memilih antara menjadi dokter atau dosen sebagai cita – citanya.

(3) Saat masa-masa galau di smp dan sma sebenarnya sempat terpikir juga untuk ganti cita-cita menjadi dokter karena mama juga nanyain lagi, tetap mau jadi dosen apa mau jadi dokter aja?
Resolution : Tersadar kembali bahwa sifat penakut masih ada, sehingga membatalkan niat menjadi seorang dokter dan memilih untuk menjadi dosen.

Complicating : Keinginan untuk melanjutkan kuliah setelah selesai sarjana, ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan keluar negeri tetapi karena belum diterima.

Resolution : Karena permohonan beasiswa belum diterima, maka memilih untuk melanjutkan di dalam negeri. Mencoba di UPI dan UI.

Complicating : Pendirian yang tidak konsisten untuk memutuskan untuk mengambil universitas yang akan dituju karena mempertimbangkan ada beasiswa atau tidak.

Resolution : Saran dari ibu untuk memutuskan untuk mengambil keputusan melanjtkan di UI (4) Akan tetapi, saat kelas X SMA aku tiba-tiba tersadar kalo jadi dokter itu sama sekali tidak mungkin dengan sifat penakut aku, belum lagi sifat teledor yang tentunya tidak dapat ditoleransi dalam profesi medis seperti itu.

(5) Setelah lulus dengan gelar Sarjana Pendidikan dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UNP, sebenarnya aku ingiiinnn sekali bisa kuliah s2 nya ke luar negeri.

(6) Namun karena permohonan beasiswanya belum diterima jadi aku memutuskan untuk kuliah di dalam negeri saja dulu.

(7) Saat mengetahui bahwa aku lulus di kedua program ini, mulai lah sifat bimbang dan indecisive aku muncul kembali ke permukaan. ….kalau di UI aku memang inginnya di sana tapi tidak ada beasiswa, sedangkan kalau di UPI ada beasiswa tapi aku tidak begitu eager untuk belajar di sana. Hufftt,,

(8) Nah, saat sedang bingung – bingungnya itu, mama akhirnya bilang “udah di UI aja zi, kalau menurut mama memang lebih bagus di UI saja”.
Evaluation : elemen dalam wacana naratif yang membuat pendengar agar tetap tertarik terhadap cerita.
Pada cerita, narator mengungkapkan bahwa rasa sesal kadang datang karena cuaca dan dana yang selalu dibutuhkan olehnya, tetapi tetap saja ada dukungan dari orang tua yang mengatakan bahwa dana atau uang yang dibutuhkan itu bukan hanya berasal dari beasiswa semata. Rezeki diharapkan datang dari Tuhan, sehingga narator tetap semangat dalam mengikuti studi di UI. (9) … jika sedang emotionally down atau cuaca di depok terlalu panas, aku masih sering wondering apakah akan lebih baik kalau dulu aku memilih kuliah di UPI, …. selalu teringat ucapan mama yang bilang kalau rezeki itu datangnya dari Allah, bukan dari lembaga beasiswa manapun. Jadi kalaupun beasiswanya tidak ada, Allah pasti memberikan rahmatNya itu lewat jalan lain, ya misalnya lewat mama papa, hehehe ….
Coda : Tanda bahwa cerita akan berakhir diungkapkan dengan kesimpulan ataupun ringkasan singkat dari narasi tersebut.
Pada cerita, diungkapkan bahwa ada perasaan tidak berguna karena kesulitan dalam memahami materi yang dipelajari, tetapi ada pesan tersendiri yang disampaikan bahwa harus mampu menyemangati diri sendiri dan mengingat kembali tujuan awal demi mencapai masa depan. (10) Yah, jadi begitu lah ceritanya bagaimana aku bisa kuliah di s2 linguistik ui dan akhirnya sekarang mengerjakan tugas ini. …. Kalau sudah begitu, untuk menyemangati diri sendiri biasanya aku mengingat kembali bahwa apa yang aku lakukan sekarang ini sudah menjadi keinginan aku seumur hidup, … Jadi apapun yang mungkin terjadi dalam perjalanan ini, harus dijadikan pengalaman yang membangun sebagai bekal dalam perjalanan aku selanjutnya setelah mencapai garis finish dari perjalanan yang ini. Fighting…!!^^

Kesimpulan
Narasi selalu menjadi suatu wacana yang menarik khususnya tentang hidup sesorang, karena kita bisa termotivasi terhadap cerita tersebut. Dalam suatu narasi pengalaman ini, akan terdapat rangkaian kejadian dan kita bisa mengetahui kondisi sosial dan kepribadian seseorang. Yang dapat kita lihat adalah narator merupakan seorang yang berasal dari lingkungan sosial di Sumatra Barat, yang memiliki kebiasaan atau kebudayaan merantau ke lain daerah, yang menimbulkan keingnan narator untuk melanjutkan sekolah bahkan ke luar negeri. Dari segi kepribadian, kita dapat melihat narator seorang yang labil dan sulit mengambil keputusan sehinggan harus mendapat dukungan dalam hal ini orang tua untuk mengambil keputusan.
Berdasarkan hasil analisis yang didapat dari interview, dapat disimpulkan bahwa di dalam naratif terdiri dari tiga aspek yang dapat dilihat dari cerita, yaitu :
1. Pendekatan sosiolinguistik merupakan korelasi atau kaitan antara cerita yang diujarkan dengan kondisi dan karakter sosial. Dalam cerita terlihat bahwa narator merupakan seseorang yang dekat dengan keluarga yang ditandai dengan mengambil keputusan akibat dari saran dari orang tua.
2. Pendekatan Psikolinguistik merupakan pendekatan dimana suatu cerita dapat dilihat dari rangkaian kejadian atau episode.
3. Pendekatan Organisasi menyatakan bahwa sumber naratif bukanlah semata hanya berasal dari lingkungan budaya atau peraturan yang dibuat oleh masyarakat, tetapi juga diciptakan sendiri dari hasil pengalaman maupun imajinasi seseorang.

DAFTAR PUSTAKA

Coulthard, Malcolm. 1992. Advances in Spoken Discourse Analysis. London. Routledge, Chapman, and Hall, Inc
De fina, Anna, Schiffri, Debora, and Bamberg Michael. 2006. Discourse and Identity. Cambridge. Cambridge University Press
Gee, James P. 2005. An introduction to Discourse Analysis theory and method. England. Routledge
Johnstone, Barbara. 2002. Discourse Analysis. Malden, Massachussetts. Blacwell Publishers Ltd
Renkema, Jan. 2004. Introduction to Dicourse Analysis. Amsterdam. John Benjamins Publishing Company

Lampiran Transkrip hasil wawancara naratif
Irene : “hai nji, aku mau tanya nih, kenapa bisa pilih UI untuk Lanjut S2?”
Fauzia : “Aku sudah bercita-cita menjadi dosen sejak pertama kali aku mengenal istilah cita-cita itu sendiri. Jadi ketika seluruh teman sekelas aku di sekolah dasar menjawab ingin menjadi dokter atau presiden saat ditanyakan apa cita-cita mereka, dengan bangga aku mengatakan bahwa aku ingin menjadi dosen jika sudah besar nanti. Lucunya, banyak teman-teman sekelas aku tersebut yang waktu itu bahkan belum tahu apa itu dosen, sehingga aku menjadi semakin merasa keren sendiri. Hehehehe.”
I : “hmm, nama lengkap kamu siapa?”
F : “Eh iya, Aku Fauziatul Husna, biasa dipanggil Uzi. Aku asalnya dari Padang, dan orang tuaku tinggal di sana. “
I : “oh, oke lanjut deh”
F : “Lanjut yang tadi ya, Saat masa-masa galau di smp dan sma sebenarnya sempat terpikir juga untuk ganti cita-cita menjadi dokter karena mama juga nanyain lagi, tetap mau jadi dosen apa mau jadi dokter aja?. Sepertinya mama ingin juga ada anaknya yang jadi dokter dan tidak dapat dipungkiri bahwa dalam masyarakat kita profesi dokter itu dianggap lebih terhormat dan bergengsi. Akan tetapi, saat kelas X SMA aku tiba-tiba tersadar kalo jadi dokter itu sama sekali tidak mungkin dengan sifat penakut aku, belum lagi sifat teledor yang tentunya tidak dapat ditoleransi dalam profesi medis seperti itu. Sejak saat itu, aku kembali ke rencana awal untuk menjadi dosen. Karena cita-cita menjadi dosen itulah, meneruskan pendidikan ke S2 sudah menjadi suatu hal yang wajar dan memang sudah aku rencanakan dari awal. Pertanyaannya adalah dimana aku akan menempuh pendidikan pasca sarjana tersebut.”
I : Trus, kenapa kepikiran untuk ambil di UI?
F : ‘Setelah lulus dengan gelar Sarjana Pendidikan dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UNP, sebenarnya aku ingiiinnn sekali bisa kuliah S2 nya ke luar negeri. Namun karena permohonan beasiswanya belum diterima jadi aku memutuskan untuk kuliah di dalam negeri saja dulu. Awalnya dosen-dosen dan teman-teman menyarankan untuk mengambil s2 di upi bandung biar katanya gelasnya linear, SPd dan MPd. Aku pun sebenarnya tidak ada masalah kalau harus kuliah di sana karena aku menyukai pendidikan, tapi setelah dipikir-pikir sepertinya akan membosankan juga jika yang dipelajari di S2 masih sebelas duabelas dengan yang dipelajari di S1. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengambil linguistik yang masih berhubungan dengan jurusan s1 aku tapi juga tidak terlalu sama. Win win solution.”
I ; “wah, keren tuh, keluar negeri. Trus kenapa gak jadi?”
F : “Pada dasarnya aku adalah orang yang sangat tidak konsisten dan mudah sekali berubah pikiran. Papa mungkin orang yang paling memahami sifat aku tersebut karena sepertinya sifat yang satu ini menurunnya dari papa juga, hahahahha, sehingga beliau menyuruh aku mendaftar di pendidikan bahasa inggris UPI dan Linguistik UI sekaligus, katanya biar nanti aku masih bisa memilih di saat-saat terakhir. Jadilah aku mengikuti ujian masuk di kedua program s2 tersebut, bedanya di UPI aku mendaftar dengan mengajukan beasiswa sedangkan di ui tidak, karena pendaftaran di UI jadwalnya sebelum berkas beasiswa aku selesai pengurusannya di UNP.”
I : “Jadi hasilnya giman, zi?”
F : “Saat mengetahui bahwa aku lulus di kedua program ini, mulai lah sifat bimbang dan indecisive aku muncul kembali ke permukaan. Waktu itu pertimbangannya seperti ini; kalau di UI aku memang inginnya di sana tapi tidak ada beasiswa, sedangkan kalau di UPI ada beasiswa tapi aku tidak begitu eager untuk belajar di sana. Hufftt,,,”
I : “ Bingung banget yah? Gak tetap pendirian sih..hehehe”
F : “Nah, saat sedang bingung – bingungnya itu, mama akhirnya bilang ‘ udah di UI aja zi, kalau menurut mama memang lebih bagus di UI saja’. Kata-kata mama itu tuh seperti lentera dalam kegelapan rasanya. Dalam hati pendapat aku sebenarnya sama dengan mama akhirnya mengambil keputusan untuk aku yang masih dalam keadaan galau dan kalau diingat-ingat, seumur hidup aku memang belum pernah mengambil keputusan atas pertimbangan sendiri. Akan tetapi bukan berarti orang tua aku diktator atau suka ngatur, hanya aku nya saja yang memang tidak memiliki kemauan keberanian untuk bertindak atas inisiatif sendiri, sehingga banyak juga orang-orang di sekitar aku yang akhirnya menganggap aku dingin dan tidak pedulian.”
I : “Oh, gitu..trus gimana perasaan sekarang setelah menjalani kuliah?”
F : “Sejujurnya, sampai sekarang, khususnya jika sedang emotionally down atau cuaca di depok terlalu panas, aku masih sering wondering apakah akan lebih baik kalau dulu aku memilih kuliah di UPI, setidaknya di sana dingin dan aku tidak perlu merepotkan mama papa lagi masalah uang karena ada beasiswa. Namun di saat-saat seperti itu aku juga selalu teringat ucapan mama yang bilang kalau rezeki itu datangnya dari Allah, bukan dari lembaga beasiswa manapun. Jadi kalaupun beasiswanya tidak ada, Allah pasti memberikan rahmatNya itu lewat jalan lain, ya misalnya lewat mama papa, hehehe ^^ Sehingga kalau ada teman aku yang bertanya,’ kuliah S2 nya sama beasiswa gak nji?’, aku pasti selalu menjawab,’ iya, beasiswa dari mama papa’.hahahhahah”
I : “Hahaha, bener zi, beasiswa ortu ya..ohh, jadi gitu ceritanya ya”
F : “Yah, jadi begitu lah ceritanya bagaimana aku bisa kuliah di s2 linguistik ui dan akhirnya sekarang mengerjakan tugas ini. Kalau boleh jujur, kadang tuh ada aja saat-saat dimana aku tiba-tiba merasa kalau seluruh acara kuliah S2 ini tuh pointless sekali, sehingga aku jadi merasa silly sendiri dan inginnya tidur yang lamaaaa biar tidak perlu mikir atau ngapa- ngapain jadi tidak capek. Kalau memang sudah karakternya malas dan selalu lari dari masalah ya begini jadinya. Kalau sudah begitu, untuk menyemangati diri sendiri biasanya aku mengingat kembali bahwa apa yang aku lakukan sekarang ini sudah menjadi keinginan aku seumur hidup, dan walaupun aku belum sampai di tujuan akhir, setidaknya aku bisa melihat garis finish itu dan sekarang sudah berada di jalur yang tepat untuk meraihnya. Jadi apapun yang mungkin terjadi dalam perjalanan ini, harus dijadikan pengalaman yang membangun sebagai bekal dalam perjalanan aku selanjutnya setelah mencapai garis finish dari perjalanan yang ini. Fighting…!!^^”
I : “Fighting!!!! Makasih zi, udah mau cerita”
F : “ Sama – sama ren “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s