Educational Linguistics “Individual Differences on Language Learners”

PERBEDAAN INDIVIDU PADA PEMELAJAR BAHASA

OLEH :
IRENE DEBORA
1206188591

Jurusan Ilmu Linguistik
Program Magister Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia

Pendahuluan
Pembelajar memiliki cara yang berbeda untuk beradaptasi dan memahami petunjuk khususnya dalam pembelajaran bahasa. Setiap individu dapat diklasifikasikan atau terdiri dari kognitif dan afektif/ konatif, dimana kemampuan kognitif (seperti kecerdasan, bakat pembelajaran bahasa, atau kapasitas atau kecepatan mengingat), berbeda dari kemampuan afektif ( seperti rasa takut, motivasi, dan emosi) dari satu individu ( Robinson 2002: 2) .
Snow (1987) menyatakan bahwa penelitian dapat dilihat dari interaksi atau hubungan dari kedua aspek tersebut di dalam diri manusia dan juga terhadap konteks pembelajaran dimana pemahaman individu secara alami terhadap suatu instruksi dapat diidentifikasi dengan baik.Dalam pengaturan instruksi terhadap pembelajaran bahasa kedua dapat dianggap suatu kebutuhan sebagai usaha untuk meneliti setiap perbedaan yang dimiliki oleh setiap individu. Keunikan yang ada pada masing-masing individu yang akan membedakan cara berpikir, berperasaan, dan bertindak. Tidak ada individu yang sama dengan individu lain, sekalipun kembar identik.
Perbedaan antara Kemampuan Kognitif, Kecerdasan, dan Bakat
Pada awalnya, perspektif terhadap teori hubungan antara kemampuan kognitif pembelajaran bahasa, dan struktur kalimat mereka telah berkembang selama beberapa tahun terakhir. Masih ada perbedaan pendapat bahwa kecerdasan dan bakat pembelajaran bahasa bukan merupakan suatu hal yang sama dan umum, tetapi merupakan konsep yang berbeda, seperti halnya antara kecerdasan ganda dan bakat ganda dalam pembelajaran bahasa.
Ada beberapa versi pendapat ahli terhadap perbedaan individu yang mempengaruhi hasil pemerolehan pembelajaran .
Altman (1980) Skehan(1989) Leersen- Freeman and Long (1991)
1 Age 1. Language aptitude 1. Age
2 Sex 2. Motivation 2. Socio-psychological factors
a. motivation
b. attitude
3 Previous Experience with language learning 3. Language learning strategies 3. Personality
a. Self – esteem
b. Extroversion
c. Anxiety
d. Risk – taking
e. Sensitivity to rejection
f. Emphaty
g. Inhibition
h. Tolerance of ambiguity
4 Personality factors 4. Cognitive and effetctive factors
a. Extroversion/introversion
b. Risk-taking
c. Intelligence
d. Field independence
e. Anxiety 4. Cognitive style
a. Field independence/ dependence
b. Category width
c. Reflexivity/ impulsivity
d. Aural/ visual
e. analytic/ gestalt
5 Language aptitude 5. Hemisphere specialization
6 Attitudes and motivation 6. Learning strategies
7 General intelligence (IQ) 7. Other factors e.g.memory, sex
8 Sense modality preference
9 Sociological preference (e.g. Learning with peers vs learning with teacher)
10 Sociological preference (e.g. Learning with peers vs learning with the teacher)
11 Cognitive style

Perbedaan individu dalam pembelajaran bahasa kedua dapat dilihat dari berbagai ruang lingkup, seperti dari segi intelegensi, kepribadian, dan sebagainya. Dalam pembahasan ini, karakteristik pembelajar bahasa kedua tersebut meliputi (1) usia, (2) intelegensi, (3) kepribadian, (4) emosi, (5) sikap pembelajar, (6) motivasi, (7) bakat. Di bawah ini adalah penjelasan dari pembagian karakteristik tersebut.
1. Usia
Perbedaan usia pembelajar bahasa kedua akan membedakan pula proses pembelajaran bahasa keduanya. Brown (2000) membagi usia pembelajar bahasa kedua atau bahasa asing ke dalam tiga kelompok umur, yakni anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Ia menyebutkan bahwa perbedaan antara anak-anak dan orang dewasa adalah masa pubertas, sedangkan kelompok remaja ia kategorikan sebagai masa transisi dari anak-anak menuju dewasa.
a. Anak-Anak
Pengajar perlu memperhatikan bahwa anak-anak (hingga usia 11 tahun) masih berada dalam fase perkembangan yang disebut dengan masa operasi konkret (concrete operation), sehingga aturan-aturan, penjelasan, serta pembicaraan lainnya mengenai bahasa yang bersifat abstrak haruslah diberikan dengan sangat hati-hati. Anak-anak sangat berpusat pada konteks di sini dan sekarang (here and now), yakni memperhatikan tujuan bahasa secara fungsional. Mereka tidak seperti orang dewasa yang sangat memperhatikan ketepatan (correctness), dan mereka juga belum mampu untuk memahami metabahasa yang dipakai oleh orang dewasa dalam menggambarkan dan menjelaskan konsep linguistik.
Anak-anak memang bersifat inovatif dalam pembelajaran bahasa, namun mereka juga masih menemukan hambatan dalam proses tersebut. Dibanding orang dewasa, anak-anak biasanya lebih sensitif terhadap rekan seusia mereka. Hal ini dikarenakan ego mereka masih dibentuk , sehingga cara penyampaian tertentu dapat diartikan negatif. Tugas seorang pengajar untuk membantu siswa menghalau rintangan-rintangan tersebut, misalnya dengan bersikjap sabar dan suportif dalam membangun self-esteem siswa, dan sebisa mungkin menggali partisipasi oral dari para siswa, terutama siswa yang pendiam.
b. Remaja
Remaja merupakan usia transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada usia 12 tahun, kapasitas intelektual diperkaya juga dengan kemampuan berpikir operasional, sehingga persoalan yang kompleks dapat diselesaikan dengan pemikiran logis, sehingga secara teoretis, materi linguistik yang bersifat metabahasa sudah dapat diberikan. Rentang perhatian semakin bertambah sebagai akibat dari kematangan intelektual, namun dengan banyaknya diversi dalam kehidupan remaja, maka rentang ini dapat kembali berkurang dengan mudah. Varietas input sensorik masih penting, namun meningkatnya kemampuan abstraksi akan mengurangi esensi alamiah dari kelima indera. Faktor-faktor seperti ego, image diri, dan self-esteem, berada di puncak. Remaja menjadi sangat sensitif akan perspektif orang lain mengenai perubahan dirinya baik secara fisik maupun emosional, sehingga seorang pengajar harus mampu menjaga self-esteem mereka diantaranya dengan menghindari mempermalukan siswa, menghargai bakat dan kekuatan setiap siswa, mentolerir kesalahan dan kekeliruan, mengurangi kompetisi antara teman sekelas, dan mendorong terjalinnya kerja sama dalam kelompok kecil. Siswa kelas menengah tentunya lebih menyerupai orang dewasa dalam kemampuan mereka mengubah diversi keadaan dari konteks di sini dan sekarang menjadi konteks komunikatif dalam membahas aturan tata bahasa atau menerapkan kosakata.
c. Dewasa
Orang dewasa lebih mampu menangani aturan-aturan dan konsep-konsep abstrak. Namun, terlalu banyak generalisasi abstrak mengenai penggunaan, serta kurangnya bahasa yang nyata juga dapat mematikan bagi orang dewasa. Orang dewasa memiliki rentang perhatian yang lebih tinggi meskipun saat mereka menghadapi hal yang secara intrinsik tidak mereka sukai. Namun, usaha untuk tetap menjaga aktivitas kelas agar menyenangkan perlu juga dilaksanakan pada saat mengajar orang dewasa. Input sensori pada orang dewasa tidak harus selalu beragam, akan tetapi, salah satu rahasia dari kelas orang dewasa yang hidup adalah seruan mereka akan beragam indera (multiple sense).
Dalam perkembangannya Brown (2008) menyatakan bahwa perolehan bahasa pertama pada anak tidak dapat dibandingkan dengan perolehan bahasa kedua pada orang dewasa yang dapat digambarkan pada bagan berikut.
Anak – anak Dewasa
B1 A1 B1
B2 A2 B2
B1 = Bahasa Pertama
B2 = Bahasa Kedua
A = Anak
D = Dewasa
Perbandingan yang dapat dilihat dari bagan di atas adalah :
1. Pemerolehan bahas pertama dan kedua pada anak ( A1 dan A2), faktor usia konstan, orang mengubah variabel bahasa. Namun penting diingat bahwa anak usia 2 tahun dan 11 tahun memperlihatkan perbedaan kognitif, afektif, dan fisik yang sangat besar.
2. Pemerolehan basa kedua pada anak dan orang deawas ( A2, D2), faktor bahasa kedua konstan, perrbandingan ini merupakan yang paling produktif dalam pengajaran bahasa.
3. Pemerolehan bahasa pertama pada anak dan pemerolehan bahasa kedua pada orang dewasa (A1, D2) merupakan hal yang memiliki perbedaan yang besar antara kognitif, afektif, dan fisik anak dan orang dewasa.
Ketiga kelompok usia ini tentunya memiliki tingkat perolehan yang berbeda khususnya dalam pembelajaran bahasa kedua atau bahasa asing. Pada pemerolehan bahasa kedua atau bahasa asing, anak-anak unggul dalam penguasaan pelafalan serta intonasi. Hal ini dikarenakan pada usia tersebut mereka jauh memiliki kespontanan dan tidak takut untuk melakukan kesalahan. Sebaliknya orang dewasa cenderung untuk mengucapkan maupun memilih kata demi kata secara hati-hati untuk menghindari kesalahan.
2. Intelegensi (IQ)
Intelegensi atau tingkat kecerdasan merupakan kemampuan dasar yang dimiliki manusia. Ada anggapan bahwa anak dengan intelegensi tinggi pasti lebih cepat berhasil dalam pemerolehan bahasa keduanya. Anggapan tersebut sepertinya kurang tepat, karena menurut Gardner (1983) intelegensi atau IQ seseorang dibedakan ke dalam beberapa pembagian. Pembagian tersebut meliputi:
o Kebahasaan;
o berpikir secara logis dan matematis;
o spasial (kemampuan untuk menemukan jalan pada suatu lingkungan, kemampuan untuk membentuk image kental dari realita dan dengan cepat dapat ditransformasikan);
o musikal (kemampuan mengucapkan serta kemampuan menerima nada dan pola irama tertentu);
o kinestik-badani (ketangkasan dalam atletik, seni tari);
o interpersonal (kemampuan memahami orang lain, bagaimana bertenggang rasa);
o intrapersonal (kemampuan menginstropeksi, melihat dirinya sendiri, mengembangkan apa yang disebut sense of identity);
Dalam kaitannya dengan kemampuan memperoleh bahasa kedua, klasifikasi Gardner sangat membantu. Potensi kebahasaan seseorang setidaknya dapat diamati dari intelegensi kebahasaannya sebagai masukan utamanya. Caroll (1993) mengembangkan teori tentang empat kemampuan yang mempengaruhi kecerdasan pembelajaran bahasa kedua. Empat kemampuan itu adalah sebagai berikut:
• Phonetic Coding Ability
Kemampuan ini berhubungan dengan kemampuan menganalisis perbedaan bunyi, menghubungkan suatu simbol dengan bunyi tertentu, serta menguasai hubungan tersebut.
• Gramatical Sensitivity
Kemampuan ini merupakan kemampuan memahami fungsi gramatical dari elemen bahasa (kata, frasa, dsb) dalam sebuah kalimat tanpa pelatihan atau pembelajaran.
• Rote Learning Ability
Kemampuan ini merupakan kemampuan mempelajari hubungan antara kata-kata di dalam suatu bahasa asing dan artinya.
• Inductive Learning Ability
Kemampuan untuk menginduksi atau membutikan aturan atau rumus tertentu dalam struktur gramatika sebuah bahasa.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat dikatakan bahwa kecerdasan bahasa memuat kemampuan seseorang dalam penggunaan bahasa dan kata-kata yang merupakan bawaan baik secara lisan dan tertulis. Setiap individu mempunyai kapasitas kecerdasan bahasa yang berbeda dengan individu lainnya sehingga akan mengakibatkan hasil pemerolehan bahasa kedua yang berbeda-beda pula. Hal ini juga berkaitan dengan pendapat Gardner yang menggolongkan kecerdasan manusia menjadi 7 macam yaitu kecerdasan musik, bodi kinestetik, logika matematika ruang, interpersonal, dan intrapersonal. Gardner menambahkan bahwa komposisi ketujuh kecerdasan tersebut sangat berbeda dalam satu individu. Kecerdasan yang paling menonjol akan mendominasi kecerdasan-kecerdasan lainnya dalam memecahkan suatu masalah.
3. Kepribadian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti cara bertingkah laku yang merupakan ciri khusus seseorang serta hubungannya dengan orang lain di lingkungannya. Kepribadian merupakan faktor penentu hasil belajar bahasa kedua, karena berbeda kepribadian maka berbeda pula hasil belajarnya. Secara umum, orang menganggap bahwa orang yang memiliki kepribadian terbuka akan lebih cepat dalam pememrolehan bahasa keduanya. Kepribadian seseorang terbagi atas dua jenis, yaitu orang dengan kepribadian tertutup (introvert) dan orang dengan kepribadian terbuka (ekstrovert).
a. Introvert
Introvert berarti kepribadiannya lebih dipengaruhi oleh dunia subjektif, orientasinya tertuju ke dalam. Orang yang memiliki kepribadian introvert ini umumnya memiliki ciri-ciri sebgai berikut:
• Lebih mudah diatur dan dididik.
• Lebih mendisiplin diri untuk belajar dengan baik.
• Lebih suka melakukan tugas yang detail, mempunyai kesanggupan untuk berkonsentrasi, dan bekerja dengan benda-benda daripada dengan orang.
• Introvert cenderung untuk menyendiri di kamar atau hanya mempunyai satu atau dua tean saja.
b. Ekstrovert
Ekstrovert berarti kepribadian yang lebih dipengaruhi oleh dunia objektif, orientasinya terutama tertuju ke luar. Pikiran, perasaan, serta tindakannya lebih banyak ditentukan oleh lingkungan.
Ciri-ciri dari orang yang berkepribadian ekstrovert adalah sebagai berikut:
• Biasanya melakukan pekerjaan lebih baik jika ada hubungannya dengan orang lain.
• Kurang dapat mendisiplin diri sendiri.
• Ekstrovert lebih populer di sekolah dan biasanya mereka dipilih sebagai para pemimpin.
Dibandingkan dengan pembelajar yang introvert, pembelajar dengan kepribadian yang ekstrovert akan lebih banyak memperoleh bahasa keduanya karena lebih banyak bergaul dan berinteraksi.
4. Sikap Pembelajar
Setiap pembelajar bahasa kedua memiliki sikap yang berbeda terhadap bahasa kedua yang dipelajarinya. Ada pembelajar yang bersikap positif terhadap suatu bahasa ada pula yang bersikap negatif. Sikap pembelajar adalah pendekatan umum yang digunakan dalam pembelajaran bahasa. Biasanya, pembelajar akan menggunakan cara yang sama seperti saat mempelajari bidang yang lainnya. Beberapa peneliti berpendapat bahwa cara belajar bahasa kedua juga dapat menggunakan cara yang sama. Empat cara utama yang digunakan dalam pembelajaran bahasa kedua yaitu : analitis vs global; audio, visual vs kinestetik, intuitif / random vs konkrit / sekuensial belajar, dan orientasi tertutup vs orientasi terbuka (Oxford 1990).
a. Analitis vs global
Pembelajar yang menggunakan analitis berfokus pada gramar dan sering menghindari cara komunikatif yang lebih bebas berekspresi. Mereka fokus pada perbedaan fitur bahasa, aturan belajar, dan membedah kata dan kalimat. Karena mereka sangat akurat, pembelajara seperti ini tidak suka menebak, menggunakan sinonim, atau menggunakan kata lain jika mereka kesuitan mengungkapkan sesuatu. Cara ini membuat pembelajar akan lambat menguasai bahasa dan sulit untuk berkomunikasi secara oral. Sebaliknya, pembelajar global akan bersifat sosial interaktif, lebih komnukatif, menekankan gagasan utama. Pembelajar akan sulit untuk berkata secara gramatikal, menghindari analisis bahasa, kalimat, dan aturan bahasa. Tipe pembelajar global lebih suka menabak, menacari persamaan kata untuk lebih memudahkan mereka berkomunikasi jika mengalami kesulitan.
b. Kecenderungan Sensory
Hal yang membedakan antara kecenderunagn sensori seperti audiovisual dan hand on merupakan kombinasi kinestetik atau berdasar pada gerakan atau sentuhan. Kecenderungan sensori mengacu pada fisik, bagaimana pembelajar dapat lebih mudah menguasai bahasa yang dipelajari.Pembelajar visual akan lebih banyak memilih stimulasi visual. Bagi mereka, pemebelajaran secara percakapan atau oral tanpa memeperlihatkan visualisasi akan membuat mereka kesulitan dalam menerima bahasa. Pembelajar audio atau berdasarkan suara akan lebih senang menerima pelajaran secara oral dan berinteraksi di kelas namun biasanya akan kasulitan dalam menulis. Sementara, pada pembelajar kinestetik menyukai lebih banyak gerakan seperti melihat dan bekerja dengan benda-benda nyata, media, dan flashcards. Duduk di meja untuk waktu yang lama akan membuat pembelajar bosan sehingga sulit untuk berkonsentrasi.
c. Intuitif/ random vs konkrit/ sekuensial
Cara belajar secara intuitif / random merupakan cara pembelajar yang dapat berpikir abstrak, skala besar, dan random atau tidak berurutan. Seperti siswa secara alami menyaring prinsip utama bagaimana bahasa kedua diujarkan, sering bosan dengan sesuatu yang nyata , berurutan, dan lebih suka mencari cara yang acak. Sementara tipe pembelajar yang menyukai sesuatu yang konkrit / sekuensial , pembelajar lebih menyukai sesuatu yang nyata, cenderung ingin mempresentasikan sesuatu secara berurutan, dan teorganisir. Pembelajar ini akan menguasai bahasa secara lambat tetapi akan lebih mantap menguasai karena lebih terorganisir bagaimana bahasa tersebut diperoleh. Ketidak berurutan dan kurangnya konsistensi akan membuat pembelajar sulit untuk menerima pelajaran.
d. Terbuka vs Tertutup
Aspek terakhir dari cara belajar adalah orientasi secara tertutup , atau sejauh mana orang tersebut perlu mencapai keputusan atau kejelasan. Cara ini sangat erat kaitannya dengan toleransi ambiguitas dan juga terkait dengan fleksibilitas dalam belajar dan cara untuk menyelesaikan masalah. Pembelajar akan berorientasi pada cara yang tertutup yaitu berusaha dengan keras, terorganisir, dan terencana. Mereke cenderung menyukai tata bahasa yang harus dinyatakan dengan jelas. Kegiatan spontan tidak diminati tipe pembelajar ini karena lebih memilih sesuatun yang harus dipesiapkan terlebih dahulu. Sementara cara belajar yang terbuka memilih cara belajar yang jauh dari serius seperti anggapan bahawa permainan bukanlah suatu tugas. Keterbukaan dapat bermanfaat dalam beberapa situasi, terutama yang hal yang membutuhkan fleksibilitas dan pengembangan kefasihan, tapi dapat merugikan dalam situasi yang lain, seperti yang sangat pengaturan ruang kelas terstruktur dan tradisional.
5. Motivasi
Secara umumnya, motivasi didefinisikan sebagai usaha yang dilakukan oleh pembelajar dalam pembelajaran bahasa kedua sebagai keinginan untuk mempelajarinya (Ellis, 1994). Gardner (1985) ketika mendefinisikan motivasi menurut konteks pembelajaran bahasa kedua menyatakannya sebagai tahap di mana seseorang bekerja dan berusaha untuk mempelajari bahasa karena keinginannya sendiri. Menurut Gardner dan MacIntyre (1993: 3), motivasi terdiri dari tiga komponen: ‘keinginan untuk mencapai tujuan, upaya untuk mencapai tujuan, dan kepuasan menyelesaikan tugas’.Motivasi dianggap sebagai kunci keberhasilan dalam pembelajaran bahasa (Gardner, 1985; Dornyei, 1990; Nunan, 1999). Pelajar bermotivasi tinggi lebih banyak menggunakan strategi latihan dengan memperhatikan hubungan bahasa secara struktur (seperti menganalisa bahasa, membandingkan bahasa pertama dengan kedua , dan melihat pola bahasa), sementara pembelajar biasa kurang berminat pada hafalan, usaha, dan pemerolehan bahasa secara terstruktur.
Dalam kaitannya dengan pemerolehan bahasa kedua, Finegan (2004:560) membagi motivasi pembelajaran bahasa kedua yaitu integratif dan motivasi instrumental.
a. Motivasi Integratif
Motivasi ini merupakan motivasi yang timbul karena adanya tujuan menguasai bahasa kedua untuk kepentingan bahasa itu sendiri, yang mengakibatkan hasil belajar yang benar-benar terintegrasi berupa penguasaan bahasa kedua tersebut secara menyeruluh sesuai dengan penutur dan budaya aslinya. Motivasi ini timbul karena adanya desakan komunikatif karena individu yang bersangkutan (pembelajarannya) tinggal/berinteraksi langsung di masyarakat yang berkomunikasi dengan bahasa kedua tersebut. Misalnya, seorang warga negara Amerika Serikat menikah dengan wanita asli Indonesia, kemudian warga negara Amerika Serikat tersebut harus tinggal di Indonesia, sehingga mau tidak mau ia harus belajar bahasa Indonesia. Maka warga amerika tersebut dalam belajar bahasa Indonesia dikatakan mempunyai motivasi integral.
b. Motivasi Instrumental
Motivasi instrumental adalah motivasi belajar bahasa kedua untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya mencari pekerjaan, agar lulus ujian, dll. Motivasi ini hanya memerlukan sedikit rangsangan dari hari untuk belajar bahasa kedua tanpa berhubungan dengan masyarakat / komunitas bahasa secara langsung. Misalnya seorang suswa SLTP yang belajar bahasa Inggris karena ingin memperoleh nilai ujian yang bagus. Siswa tersebut dapat mempelajari bahasa Inggris dari buku-buku, pelajaran, dan dari film atau lagu-lagu yang menggunakan bahasa Inggris.
Motivasi belajar peserta didik dapat diamati dari beberapa indikator:
• Ketekunan dalam belajar
• Keseringan belajar
• Komitmennya dalam memenuhi tugas-tugas
• Frekuensi kehadiran

Cara Untuk Memotivasi Pembelajar Bahasa kedua:
• Memberikan pujian kepada pembelajar yang melakukan sesuatu dengan baik meskipun hal itu tidak begitu berarti.
• Kurangilah kecaman atau kritik yang dapat mematikan motivasi pembelajar.
• Menciptakan persaingan yang sehat di antara pembelajar.
• Menciptakan kerjasama antara pembelajar.
• Berikan umpan balik kepada pembelajar atas hasil pekerjaannya.
6. Bakat pembelajar bahasa
Bakat adalah dasar kepandaian, sifat yang dibawa dari lahir. Seseorang yang memiliki bakat pada bidang kebahasaan tentunya akan memiliki minat pada bidang kebahasaan. Bakat seseorang akan sangat membantu dalam keberhasilan pada bidang yang disukainya. Namun, tanpa bakat pun seseorang mampu berhasil mencapai apa yang diharapkannya pada bidang tertentu, asalkan seseorang itu memiliki ketertarikan atau minat yang tinggi pada bidang tersebut. Orang yang memiliki minat belajar bahasa kedua tetapi tidak memiliki bakat, kemampuan pemerolehan bahasa keduanya tentu bisa sama dengan orang yang memiliki bakat, hanya saja mereka harus belajar lebih keras untuk belajar bahasa.
Gardner mengemukakan delapan kecerdasan berganda, yaitu: linguistik, logis-matematis, musikal, spasial, kinestetik tubuh, naturalis, antarpersonal, intrapersonal. Bahkan, Gardner bermain-main dengan kemungkinan kecerdasan yang lebih jauh, yaitu spiritual, eksistensial, dan moral. (Howard Gardner dalam Brown, 2008:116)
Carrol (1962: 128-30) telah mengidentifikasi 4 kemampuan yang independen yang membentuk bakat belajar Bahasa kedua, yaitu :
1. Kemampuan mengkode fonetik artinya kemampuan untuk “mengkode” bahan fonetik auditoris sedemikian rupa sehingga hal ini bisa di ketahui, diidentifikasi, dan diingat sedikit lebih lama dari beberapa detik.
2. Kepekaan gramatis artinya kemampuan untuk mengenal fungsi gramatis dari kata-kata dalam konteks kalimat.
3. Kemampuan belajar bahasa secara induktif yang artinya kemampuan untuk menrik kesimpulan bentuk-bentuk, kaidah-kaidah, dan pola-pola linguistik dari isi linguistik baru itu sendiri dan sedikit pengawasan dan bimbingan.
4. Kemampuan mengingat di luar kepala adalah kemampuan untuk mempelajari sejumlah besar asosiasi dalam waktu yang relatif pendek

Kesimpulan
Dalam dunia pendidikan terdapat berbagai macam faktor yang memiliki andil dalam pendidikan. Salah satu tugas yang diemban oleh para pendidik adalah memahami akan berbagai faktor pendukung pendidikan tersebut. Diantara berbagai faktor tersebut adalah bagaimana para pendidik bisa memahami akan situasi dan kondisi, baik lingkungan maupun peserta didik itu sendiri. Peserta didik sebagai objek dari pendidikan sangat urgen untuk diperhatikan dari berbagai faktor. Faktor tersebut yang harus diperhatikan adalah tahap perkembangan dari peserta didik tersebut. Diantara perkembangan perserta didik tersebut adalah bagaimana dari individu dan karakteriststiknya
Setiap pembelajar memiliki cara yang berbeda untuk beradaptasi dan memahami petunjuk khususnya dalam pembelajaran bahasa. Seperti yang kita ketahui bahwa setiap individu itu memiliki keunikan masing – masing. Keunikan yang ada pada masing-masing individu yang akan membedakan cara berpikir, berperasaan, dan bertindak. Tidak ada individu yang sama dengan individu lain, sekalipun kembar identik. Pada dasarnya, keunikan yang dimiliki individu mengacu kepada perbedaan. Setiap perbedaan – perbedaan itu menjadikan individu tersebut mencapai hasil yang berdeda. Dalam pembelajaran khususnya pembelajaran bahasa, setiap individu memiliki cara masing – masing untuk mencapai hasil yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Brown,D.H.2000. Principles of Language Learning and Teaching. New York. Longman
Brown, D,H.2007. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa.New York. Peerson Education Inc.
Carroll, J B. 1993.Human Cognitive Abilities. Cambridge. Cambridge University Press
Ellis, Rod.1994. The Study of Second Language Acquisition.Oxford. Oxford University Press
Goleman, D. 1999. Working with Emotional IntelligenceLondon UK.. Bloomburry Publishing
Gardner, H. 1983. Frames of Mind: The theory of multiple intelligences. New York: Basic Books.
Rapacholli, B and Slaughter,V.2003. Individual Differences in Theory of Mind. New York. Psychology Press
Robinson Peter. 2002.Individual Differences and Instructed Language Learning. Amsterdam. John Benjamins Publishing Company
Spolsky, Bernard and Hult, Francis. M.2007. The Handbook of Educational Linguistics. London. Blackwell Publishing.
Spolsky, Bernard. 1999. Concise Encyclopedia of Educational Lingustics. Glasgow. Cambridge University Press

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s