Casual Style for teaching

 

 

PENGGUNAAN CASUAL STYLE  

DALAM PENGAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK ANAK- ANAK

“PERSPEKTIF SOSIAL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA”

 

IRENE DEBORA

1206188591

PASCA SARJANA LINGUISTIK – PENGAJARAN BAHASA

UNIVERSITAS INDONESIA

 

Abstract

Young Learners have less reinforcement to comumunicate with others. One of the causes is the trend of formal or clumsy learning setting in emphasizing the communication proficiency. The using of casual style in conveying the material and way of communication will encourage students to communicate or speak actively. Communicating based on the culture context also contribute them in increasing their motivation to speak. Casual style as one of the language variations gives contribution in increasing students’ motivation to be more active in the class. The simply characteristics of Casual style can be memorized and applied easily. Casual style tends to adjust the culture of speaker in communication so it will be easy to be understood. Students also can use the utterances in their daily life because most of the utterances are familiar for them. The raising of speaking motivation from students will give positive effect for teaching and learning process, students, and also teachers.

 

Key words : Casual style, motivation, communicate, teaching and learning process

 

I. Pendahuluan

Dalam memproduksi bahasa, ada beberapa aspek yang mempengaruhi penggunaannya seperti dialek, variasi bahasa, laras bahasa, dan ragam (style) berbahasa. Contohnya saja ketika seseorang menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi, oreang tersebut harus mengamati kondisi dan situasi. Berdasarkan anggapan tersebut mengakibatkan Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang sangat rumit untuk dipelajari. Konteks ataupun situasi komunikasi tersebut menciptakan variasi bahasa yang digunakan. Variasi bahasa merupakan perbedaan penggunaan bahasa yang berdasar kepada latar belakang daerah, kelas sosial dan dimana bahasa itu digunakan, etnis, jenis kelamin, usia, dan ragam berbahasa.

Ada beberapa defenisi variasi bahsa yang dikemukakan para ahli, seperti yang dikemukakan oleh Mckay dan Hornberger (1996: 151)

Variation of language is the difference of language usage that considerably depending on one’s regional background, social class and network, ethnicity, gender, age, and style.

 

Ada juga makna variasi yang dikemukakan Hudson (1996, p. 22) dalam Wardaugh (2006 : 25) bahwa variasi bahasa adalah ‘ sekumpulan materi ataupun bagian linguistik dengan penuturan yang sama’. Hal ini mengacu kepada variasi yang terjadi pada Canadian English, London English, American English sehingga menurut Hudson definisi tersebut membuat kita cenderung untuk mengenal bentuk kata yang sama dengan ujaran yang berbeda.

Berdasarkan definisi di atas, variasi bahasa dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu : Variasi daerah dan Variasi Sosial (Holmes, 2008: 128)[1]. Variasi daerah merupakan variasi yang berdasar kepada aspek geografi, sementara variasi sosial berdasar kepada kelas sosial yang terjadi dalam masyarakat. Hal ini menyebabkan perbedaan penggunaan bahsa antara masyarakat yang dikatakan kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Holmes (2008 : 153) menyatakan bahwa cara berbicara style biasanya merupakan indikator yang baik dalam mengetahui latar belakang seseorang seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa etnis, jenis kelamin, usia, kelas sosial dan berbagai latar belakang seseorang dapat terpancar dari cara berbicara.

Liamas, Mullany dan Stockwell (2007: 95) memaparkan bahwa ragam berbahasa (style) merupakan suatu dimensi bahasa dimana setiap idividual memiliki pilihan kata tersendiri. Seseorang tidak selalu berbicara secara konsisten ataupun dengan cara yang sama. Setiap pembicaraan akan berbeda cara sesuai situasi yang juga memberikan perbedaan makna secara sosial. Hal ini menunjukkan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan posisi sosial dan bagaimana seseorang memilih cara yang tepat terhadap situasi yang ada. Joss (1961)[2] menjelaskan bahwa berdasarkan situasi dimana bahasa diungkapkan, terdapat beberapa jenis ragam yaitu: Frozen style, formal style, consultative style, casual style, dan intimate style. Masing – masing ragam tersebut memiliki definisi dan karateristik tersendiri sehingga keberagaman bahasa yang digunakan oleh seseorang dalam setiap tuturan yang diujarkan.

 

II. Diskusi

Aspek – aspek yang terkait pada Konteks Sosiokultural dalam Sosiolinguistik

Sosiolinguistik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dan masyarakat. (Holmes 2008: 1). Kajian tersebut memaparkan mengapa seseorang menuturkan ujaran yang berbeda pada konteks sosial yang berbeda dan hal ini terkait pada mengidentifikasi fungsi sosial bahasa dan ragam bahasa untuk menentukan makana sosial yang terkandung. Wardhaugh (2006 :13) memiliki pemikiran bahwa sosiolinguistik merupakan kajian yang dupusatkan pada hubungan antara bahasa dan masyarakat dengan tujuan memiliki pemahaman lebih baik bagaimana sturuktur dan fungsi bahasa di dalam komunikasi yang terjadi.

Defenisi yang lain dari sosiolinguistik adalah yang dipaparkan oleh Fishman (1972: 4) yaitu kajian mengenai karakteristik dari variasi bahasa, fungsi bahasa, dan juga penutur bahasa tersebut dimana ketiga aspek tersebut saling berhubungan, diubah, dan mengubah di dalam suatu komunitas bahasa. Ada pula Encarta (2005) berpendapat bahwa sosiolinguistik adalah kajian terhadap pola dan variasi bahasa di dalam suatu komunitas atau masyarakat. Hal ini berfokus kepada  cara seseorang menggunakan bahasa untuk menyatakan kelas sosial, status kelompok, jenis kelamin, etnis dan dapat terlihat pada bagaimana pemilihan bentuk kata yang digunakan dalam suatu proses komunikasi.

Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik terkait kepada hubungan antara bahasa yang digunakan dalam suatu komunitas berdasarkan konteks dari fungsi sosial yang ingin ditonjolkan. Ilmu tersebut menganalisa perbedaan penggunaan bahasa dan variasinya di dalam berbagai komunitas masyarakat dan memisahkan antara fungsi komunikasi berdasrkan konteks sosial dan situasi yang ada.

Cakupan dari Sosiolinguistik

Sosiolingusitik memiliki beberapa cakupan terkait dengan situasi dari komunitas tertentu. Cakupan – cakupan ini memiliki karakteristik dan fungsi masing – masing di dalam proses komunikasi.

  1. 1.        Bahasa

Bahasa merupakan cara sesorang untuk berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal. Sapir (1965: 78) menyatakan bahwa bahasa merupakan ide komunikasi manusia yang murni melalui sistem simbol tertentu.

 “Language is a purely human and non instinctive method of communicating ideas, emotions, and desires by means of a system of voluntarily produced symbols”.

 

Dari kutipan di atas dinyatakan bahwa bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan juga memiliki banyak keuntungan yang terlihat dari berbagai aspek kehidupan. Dalam situasi sosial seperti percakapan, dapat dindikasikan bahwa sikap bahasa dapat terlihat dari fungsi  bahasa dalam membangun hubungan sosial. Pentingnya hubungan ini mengacu kepada perkembangan suatu sub- disiplin baru dalam linguistik yaitu sosiolinguistik. Bagaimana dan mengapa bahasa berubah, kapan dan mengapa seseorang dalam komunitas berbeda menggunakan bahasa dengan aspek sosial, pendidikan, politik yang  berbeda di masayarakat tertentu. Jelas terlihat bahwa hubungan antara bahasa dan masyarakat dapat diterapkan pada variasi, ragam berbahasa, ataupun dialek yang bermacam – macam. Dengan adanya bahasa maka sekumpulan orang dapat membentuk komunitas  ataupun kebiasaan masyarakat sendiri .

  1. 2.        Dialek

Dalam hal ini, dialek merupakan jenis variasi bahasa atau variasi bahasa daerah yang memiliki perkumpulan bahasa tersendiri (Hudson, 1987: 31). Hal ini menggambarkan bahasa kelompok yang dimiliki sesuai dengan minat ataupun peekerjaan atau bahasa yang digunakan dalam suatu perkumpulan tertentu. (Holmes, 2008: 137). Jika bahasa lebih luas cakupannya dibandingkan dengan dialek, sebaliknya dialek hanya terdiri dari beberapa hal yang ada di dalam bahasa. Fungsinya di dalam massyarakat adalah sebagai bahasa yang tidak baku dan tidak memiliki kelebihan di dalam masyarakat. Di dalam dialek memiliki dua istilah yang sering dibahas yaitu dialek daerah (regional dialect) dan dialek sosial (social dialect). Dialek daerah sering digunakan untuk menunjukkan perbedaan bahasa lokal yang dapat diperhatikan jika terjadi perpindahan daerah atau lokasi yang berbeda. (Wardaugh, 2006: 44). Sementara dialek sosial adalah variasi bahasa dianatara kelompok sosial tertentu dan bergantung kepada perbedaan faktor yang tampak dalam kelas sosial, keagamaan, ataupun etnis.

  1. 3.        Laras dan Ragam Bahasa

Istilah Laras telah dikemukakan oleh Wardaugh (2006: 52) yang merupakan salah satu faktor yang ulit dalam kajian variasi bahasa. Laras bahasa merupakan sekumpulan kosakata yang dikelompokkan berdasarkan perkerjaan atau kelompok sosial. Sementara pendapat lain muncul bahwa laras bahasa merupakan sekumpulan bahasa yang digunakan untuk tujuan tertentu dalam keadaan sosial tertentu. Halliday (1964)[3] menyatakan bahwa ada tiga variable yang mempengaruhi laras bahasa, yaitu : field (subjek dalam wacana) , tenor (peserta komunikasi dan hubungannya), dan mode ( saluran komunikasi, misalnya lisan atau tertulis).

Ragam bahasa adalah tingkatan variasi di dalam tuturan dari seorang penutur (Bell, 1997:240).

Ragam biasanya dikelompokkan dengan kelompok atau situasi tertentu dan memiliki sense atau perasaan tersendiri dari kelompok tersebut. Ragam juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang membedakan kualitas dalam penggunaan bahasa secara umum hingga kepada susunan kata ataupun tuturan yang mungkin dikeluarkan yang memiliki ragam tersendiri dan sering dikatakan tidak seperti biasanya (Bloch, 1960:8). Dengan kata lain, ragam bahasa adalah variasi tuturan yang dikeluarkan seseorang menggambarkan kelompok ataupun situasi tertentu.

  1. 4.        Berbagai Variasi yang ada

Campuran variasi yang ada dalam sosiolinguistik terdiri dari beberapa elemen yaitu alih kode (code switching), peminjaman istilah (borrowing), bahasa pijin atau pasaran (pidgin), dan kreol atau penutur bahasa tersebut (creole).

  1. Alih kode (Code Switching) merupakan variasi yang digunakan penutur pada saat berbicara. Hal ini mengakibatkan penutur yang sama menggunakan istilah atau laras yang berbeda pada saat berbicara. (Hudson, 1987: 56).
  2. Peminjaman istilah (borrowing) merupakan proses dalam berbahasa yang menunjukkan variasi berbeda yang memungkinkan terjadinya pembauran makna dengan yang lain (Hudson 1987: 58).
  3. Pijinisasi (pidgin) merupakan proses menciptakan variasi baru dari dua atau lebih pembauran bahasa yang dituturkan oeh seseorang. (Hudson, 1987: 61). Proses ini menjadikan satu bentuk baru dari bahasa termasuk menciptakan bahasa sendiri yang sama sekali berbeda.
  4. Kreol (Creole) merupakan pijinisasi yang diperoleh oleh penutur asli bahasa itu sendiri. Proses dimana pijinisasi berubah menjadi kreol disebut Kreolisasi (Hudson, 1987 :63)
  5. 5.        Ragam Bahasa

Setiap orang memiliki ragam tersendiri untuk mengungkapkan maksud dan tujuan ujaran melalui bahasa. Jenis variasi bahasa ini disebut style atau ragam berbahasa. Bahasa memiliki daya untuk membuat proses komunikasi berhasil dan membangun hubungan sosial dengan baik. Jika hal ini tidak berlangsung dengan baik maka proses komunikasi dan interaksi akan gagal. Berdasarkan penjelasan tersebut maka perlu diperhatikan aspek tertentu dari variasi bahasa untuk mendapatkan keberhasilan dari komunikasi tersebut. Keraf (1991: 13) menyatakan bahwa ragam bahasa merupakan cara untuk mengungkapkan ide atau pendapat dengan bahasa khusus yang menunjukkan jiwa, antusiasme, dan fokus si penutur (penggunaan kosakata). Bahasa yang baik memiliki tiga elemen yang penting yaitu: kejujuran, rasa hormat, cara yang baik, dan ketertarikan terhadap suatu wacana.

Ragam bahasa juga didefinisikan sebagai kualitas yang membedakan penggunaan bahasa seseorang dengan bentuk bahasa secara umum yang ujarannya  mengindikasikan ragam tertentu yang berbeda dengan bentu normal (Bloch, 1960: 8). Hal ini biasanya dihubungkan dengan kelompok tertentu dan memiliki makna tersendiri dalam kelompok tersebut. Seorang yang berbicara bisa saja memiliki lebih dari satu ragam berbahasa karena ini itu orang tersebut dapat merubah ragam berbicaranya bergantu kepada situsi atau kepada siapa ujaran tersebut ditujukan. Misalnya saja ketika kita berbicara kepada orang yang lebih muda akan berbeda dengan berbicara kepada orang dewasa. Bahasa yang digunakan biasanya lebih santai jika ditujukan kepada anak kecil sementara jika ditujukan kepada orang dewasa bahasa yang digunakan biasanya lebih fornal dan bahasa yang sopan.

Jenis Ragam Bahasa (style)

Martin Joos (1967) dalam bukunya yang berjudul Five Clocks (1967:153) mengelompokkan ragam berbahasa berdasarkan situasi saat ujaran diucapkan. Jenis ragam bahasa tersebut adalah sebagai berikut.

  1. 1.        Frozen ( Oratorical) Style

Jenis ini biasanya digunakan dalam bahasa tulisan atau naskah pidato. Ragam beku atau oratoris biasa digunakan dalam public speaking di depan banyak orang; kata – kata yang diujarkan benar – benar terencana, memperhatikan intonasi, dan sejumlah cara untuk mempengaruhi pendengar. Ciri yang lain dari bentuk ini adalah penggunaan yang benar – benar formal dan sopan untuk menunjukkan identitas penutur. Contoh dari ragam ini dapata terlihat dari seseorang berdoa

  1. Mengungkapkan doa kepada Allah, Tuhan yang benar – benar memiliki bahasa tertentu dan tidak boleh diubah. Dalam Bahasa Inggris Expressing our gratitude must be delivered just for Allah, God, Lord dibandingkan mengatakan  of his favor and charity.
  2. Dalam bahasa pidato dapat diungkapkan dengan cara On this occasion I desire to preach on the title …..
  3. 2.         Formal Style

Formal style dapat didefinisikan sebagai ragam bahasa yang digunakan dalam situasi formal dan menggunakan bahasa yang formal. Ragam bahasa ini digunakan

Bagi orang yang memiliki jarak (antara pembicara dan pendengar). Pada jenis ini, biasanya pendengar berjumlah besar sehingga tidak memungkinkan adanya interaksi antara pembicara dan pendengar tetapi situasinya berbeda dari frozen style. Beberapa contoh formal style di dalam bahasa Inggris:

  1. Mrs. William, would you like to have a sit first before you deliver your speech?
  2. If Mr. Kevin would be so kind ask to let me finish my words.
  3. Well, it is rather difficult to say at this point.
  4. I would like to introduce my self to you.
  5. 3.     Consultative Style

Ragam konsultative biasanya digunakan dalam bisnis dan situasi diskusi. Ragam ini biasanya terjadi dalam situasi dialog yang walaupun terlihat formal karena memperhatikan kesantunan berbahasa. Transaksi bisnis, percakapan antara dokter dan pasien dan sejenisnya adalah situasi yang terjadi menggunakan ragam bahasa ini. Seseorang yang ingin mengujarkan bahasa tersebut biasanya tidak merencanakan apa yang ingin diungkapkan sehingga memnugkinkan terjadi kesalahan dalam berbahasa seperti pengulangan atau pemilihan kata yang tepat.Contoh dari ragam konsultatif ini dapat terlihat pada ujarana berikut:

  1. Excuse me, I think it’s really important for me to add about the topic that we discuss.
  2. Actually, we have the same views about this problem. So, why don’t you join with us?
  3. I see. You will change the project and sale it to other companies, right ?

 

  1. 4.        Intimate Style

Ragam akrab ini menandakan bahwa tidak ada jarak atau kelas sosial dalam suatu komunikasi. Pembicaraan kepada keluarga, orang terdekat, dan teman akrab akan menunjukkan ungkapan dalam ragam bahasa ini. Selanjutnya, ragam akrab ini juga memiliki ciri – ciri pengulangan, bahasa yang tidak lengkap, komunikasi non – verbal atau kode tertentu yang hanya dimengerti orang yang bersangkutan.  Contoh dari ragam bahasa ini :

  1. Tea’s cold à Cold
  2. Hi, darling à hi, darl
  3. Damn hot àHot
  4. What is it, honey? à What, hon?
  5. 5.          Casual Style

Penggunaan ragam santai (casual) mengacu kepada ragam bahasa dan ungkapan yang informal. Ragam santai dapat didefinisikan sebagai ragam bahasa dalam percakapan santai dan situasi normal yang sesuai dengan situasi komunikasi terhadap teman yang sudah dikenal dekat.

Bahasa yang digunakan tidak lengkap dan difokuskan kepada makna dari suatu tuturan dan bukan struktur yang benar. Hal ini dapat terlihat dalam contoh:

  1. Do you enjoy the party?                          à (a) Enjoy it ?
  2. Would you take it ?                                 à (b) Take it…
  3. Would you give me some money ?          à (c) Give me some …
  4. It wasn’t me who stole your car              à (d) Not me …
  5. Do you want to come ?                            à (e) Want to come / Wanna come ?

Contoh (a, b, c, d, e) diatas merupakan bahasa yang digunakan oleh pembicara dalam situasi informal.

Karakteritik Casual Style

Karakteristik dari casual style di dalam Bahasa Inggris adalah:

  1. a.        Tidak adanya artikel pada awal kalimat contohnya : Friend of mine saw it, Coffee’s cold
  2. b.        Tidak adanya subjek pada awal kalimat Contohnya : Bought it yesterday ?, Makes no difference.
  3. Tidak adanya kata kerja bantu. Contohnya: Leaving ?, Seen John lately ?

Eggins (1997:73) menyatakan bahwa percakapan santai memiliki beberapa ciri – ciri yang menjadikan berbeda dengan yang lain. Karakteristik ini meenunjukkan bentuk atau pola tertentu dalam beberapa hal yaitu:

  1. Sebagian besar struktur kalimat atau frasenya terbagi menjadi tiga jenis, interogatif, deklaratif, dan imperatif. Contohnya:

–            interrogatives : why ?, really ?, what makes you say that ?

–            declaratives : she was a selfish girl, you should know.

–            imperatives : don’t be so bloody sure !

  1. Biasanya menggunakan kata kasar atau sumpah serapah untuk menegaskan masksudnya. Contoh dari penggunaan sumpah serapah kata bloody, n’sync, bullshit. Ungkapan yang biasa digunakan:

–            hey.., it’s a n’sync number..!

–            that’s bullshit..!

–            Uhh, damn! It’s hurt..!

  1. Secara umum, ujaran – ujaran terdiri dari dua unsur pokok Subject dan finite. Dengan kata lain kata yang lainnya akan hilang atauputidak disebutkan. Hal ini dapat terlihat dari contoh berikut:

 

Full

Elliptical

Declarative

Andra plays guitar melody

Last month

Imperative

Look up the girl standing up there

Look..

Wh – Interrogative

When are you gonna do. Get you thesis?

When..?

Polar Interrogative

Uhuu…But what is it?

Do you..?

Exclamative

What a crap you talk, Ton!

What a crap!

 

 

 

 

 

Penggunaan Casual Style dalam Pengajaran Bahasa Inggris untuk Anak – anak

Pemelajar Bahasa Inggris dalam hal ini anak – anak berusia enam hingga dua belas tahun biasanya merupakan pemelajar yang sangat aktif baik dalam komunikasi verbal maupun non – verbal. Hal ini menimbulkan suatu pemikiran oleh para ahli bagaimana pembelajaran bahasa khususnya Bahasa Inggris dapat menjadi suatu pelajaran yang berguna dan menari bagi anak – anak. Schriffin dalam McKay dan Hornberger (1996: 307) menyatakan bahwa ada salah satu perspektif di dalam pembelajaran bahasa yang menggunakan pendekatan sosiolinguistik yaitu Interactional Sociolinguistics. Pendekatan ini memaparkan bahwa dalam mempelajari bahasa, siswa membutuhkan interaksi yang baik dengan bahasa – bahasa yang dapat dipahami sehingga  proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. Kaitannya dengan ragam bahasa untuk memberikan pemahaman yang baik makan pengajar harus menggunakan bahasa yang santai (casual style) sehingga siswa dapat memahami. Casual dalam hal ini lebih difokuskan kepada ujaran – ujaran sederhana secara gramatika yang digunakan oleh guru ataupun siswa.

Costa dan Marzano (2001) juga mengklasifikasikan beberapa ujaran dan interaksi yang ada di dalam kelas terlihat secara casual berupa:

ü  I’m bored./This sucks.

ü  Do we have homework?

ü  Will this be on the test?

ü  Is there extra credit?

ü  He/She is touching/bothering/looking at me.

Ada juga beberapa ujaran guru yang terlihat santai di kelas seperti:

ü  Take out your book/pencil/pen/paper.

ü  Stop talking.

ü  Line up.

ü  Hands and feet to yourself.

ü  No talking in the hallway.

Marzano juga memberikan beberapa ujaran yang sering dipergunakan di dalam kelas dalam proses pembelajaran seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Ujaran siswa di dalam kelas

Ujaran yang digunakan

Ujaran formal yang seharusnya

I’m bored./This sucks.

  • This no longer interests me.
  • My interest in learning has waned.
  • May I explore a different topic?
  • May I explore this topic differently?
  • Perhaps my learning style is not suited to this particular activity

Do we have homework?

  • Do we have an opportunity to extend our
  • learning this evening?
  • Will this task require work in my residence?
  • May I terminate this task in my habitat?

Will this be on the test?

  • Will I need to demonstrate my knowledge of
  • this pearl of wisdom on the assessment?
  • Will this learning appear on the assessment?

Is there extra credit?

  • May I earn additional points?
  • May I dazzle you with my knowledge of this
  • topic on a nonrequired assignment?

He/she is bothering/

touching/looking at me.

  • A fellow classmate is disturbing my learning.
  • My peer will not allow me to extend my
  • knowledge of this topic.

 

Ujaran yang digunakan guru

Ujaran yang digunakan

Ujaran formal yang seharusnya

Take out your book/

pencil/pen/paper.

  • Retrieve your tome/writing utensil/papyrus.
  • Take out the necessary learning paraphernalia.

Stop talking

  • Cease speaking.
  • Terminate the conversation

Line up

  • Arrange yourselves in a linear fashion.

Hands and feet to

yourself.

  • Retain control of your limbs.
  • Do not allow your extremities to wander.

No talking in the

hallway.

  • Cease the discourse on the concourse.

 

Eckert dan Rickfort (2001: 274) juga memberikan salah satu contoh ujaran atau percakapan dalam ragam santai yang memperlihatkan bahwa bahasa yang tidak lengkap dan gesture dapat digunakan dalam situasi komunikasi tertentu.

S: they wanted to go to this posh shopping center car park

B: oh that one/ the one behind the Arndale Centre

S: I don’t know what it were/

B. wouldn’t you?/

S: you know where I used to park?/

B: I don’t know if it’s still. behind the Oyster Bar. You know that

S: that little one

B:  yeah

S: that little multi-storey one

B: yeah/I always park there

Dalam situasi di atas, kata that digunakan untuk menunjukkan posisi tempat parkir yang diinginkan oleh S, sehingga bukan hanya kalimat yang digunakan tidak lengkap tetapi juga menggunakan gesture yang hanya dapat diketahui jika situasi atau konteks tersebut diketahui dengan pasti.

Berdasarkan hal – hal yang telah dipaparkan dalam ragam bahasa casual di atas, ragam ini sangat sesuai untuk digunakan dalam interaksi yang digunakan di dalam kelas anak – anak karena ragam bahasa mudah untuk dipahami, diingat dan diterapkan dalam kehidupan sehari – hari. Kaitan erat antara konteks budaya dan kosakata dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi siswa untuk berbicara (Mondria, 1991). Melatih berbicara tidak hanya membutuhkan kosakata tetapi juga latar belakang pengetahuan yang dimiliki siswa juga sesuatu yang harus diperhatikan. Jika siswa merasa akrab atau sudah memahami kosakata dan konteks dalam berkomunikasi maka siswa akan merasa termotivasi untuk berbicara. Karakteristik dari tuturan dalam casual style yang terlihat pendek, mudah dipahami, dan penggunaan berdasarkan konteks dapat melatih siswa menggunakan ujaran tersebut secara berkesinambungan. Hal ini juga mengakibatkan siswa merasa mudah dan mampu dalam berbicara khususnya berbicara Bahasa Inggris.

III. Kesimpulan

Kemampuan siswa dalam berbicara tidak hanya timbul dari materi atau metode yang digunakan dalam pengajaran berbicara tetapi juga dipengaruhi oleh ragam bahasa yang diungkapkan oleh pengajar apakah mudah dipahami atau tidak. Roberts (1969) menyatakan bahwa variasi bahasa yang tampak dari konteks komunikasi memberikan kontribusi yang lebih dalam meningkatkan motivasi atau mental siswa untuk berbicara. Casual style dapat diterapkan dalam proses pembelajaran maupun kegiatan sehari – hari di luar kelas. Menerapkan ragam bahasa ini di dalam kegiatan kelas mempermudah siswa untuk memahami materi. Disamping itu, siswa memiliki keberanian untuk mengungkapkan ide yang ada di pikiran mereka karena mereka tidak dituntut untu berbahasa formal di dalam kelas. Pengajar dapat menerapkan ujaran – ujaran seperti: take it!, Come forward!, dalam mengujarkan bentuk imperative ataupu dalam bentuk interogatif: any question? Hal ini juga dapat terlihat dengan adanya perkembangan kemampuan pengajar dan siswa dalam mengidentifikasi situasi atau konteks ketika mereka berbicara sehingga mereka dapat diterima dan  menyesuaikan diri dalam suatu komunitas atau masyarakat tertentu.

 

Daftar Pustaka

Bloch, B. 1960. Style and Linguistics. Jakarta: Tantular.

 

Eckert, Penelope and John R. Rickford. 2001. Style and Sociolinguistic Variation. Cambridge: Cambridge University Press

 

Eggins, S. and Slade, D. 1997. Analyzing Casual Conversation. Great Britain:

Creative Print and Design Wales.

 

Fishman. 1972. Sociolinguistics. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

 

Holmes, Janet. 2008. An Introduction to Sociolinguistics. England: Pearson Education Limited

 

Liamas, Carmen, Louise Mulany, and Peter Stockwell. 2007. The Routledge companion to sociolinguistics. USA and Canada: Routledge

 

Mckay, Sandra Lee and Nancy Hornberger. 1996. Sociolinguistics and Language Teaching. Cambridge: Cambridge Unversity Press.

 

Marzano, R. J. 2001. A new era of school reform: Going where the research takes us. Aurora, CO: Mid-continent Research for Education and Learning.

 

Wardhaugh. 2006. An Introduction to Sociolinguistics. Cambridge: Harmolls Ltd,

Bodmin.


[1] Dalam terbitan 2008 Holmes menyatakan terdapat dua jenis variasi bahasa yaitu : Regional variatioImagen dan Social Dialect

[2] Diakses dari en.wikipedia.org./wiki/Register_(sociolinguistics) pada tanggal 06 April 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s